Haluannews Ekonomi – Impian untuk mencapai kemapanan finansial dan akumulasi kekayaan yang signifikan menjadi dambaan mayoritas individu. Namun, di Indonesia, struktur demografi ekonomi menunjukkan dominasi segmen kelas menengah dibandingkan kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi. Fenomena ini menarik perhatian para pakar keuangan, yang mengidentifikasi pola perilaku tertentu pada kelas menengah yang justru menghambat mereka untuk naik ke level kekayaan yang lebih substansial.

Related Post
Kelas menengah, menurut analisis Haluannews.id, cenderung memiliki gaya belanja yang seimbang antara pengeluaran esensial dan kebutuhan gaya hidup. Meskipun sesekali menikmati kemewahan seperti bersantap di restoran atau bepergian, mereka juga tetap menyisihkan dana untuk tabungan dan investasi. Zach Larsen, CEO Pineapple Money, mengamati bahwa kelompok ini seringkali berada di persimpangan antara mengejar kenyamanan hidup dan memenuhi tuntutan finansial. "Fokus mereka banyak tertuju pada kepemilikan rumah yang layak, kendaraan yang andal, serta pendidikan anak. Prioritas juga diberikan pada tabungan pensiun dan asuransi," jelas Zach, seperti dikutip dari Yahoo Finance, Senin (16/2/2026).

Laporan Business Insider turut memperkuat pandangan ini, menunjukkan bahwa mayoritas responden dari kelas menengah berencana menabung jika memperoleh pemasukan tambahan. Kontrasnya, kelompok berpenghasilan rendah lebih condong untuk melunasi utang, sementara kalangan kaya raya memilih jalur investasi untuk mengembangkan aset mereka.
Studi mendalam yang dirangkum dari Yahoo Finance mengungkap tujuh jenis pengeluaran umum di kalangan kelas menengah yang jarang dilakukan oleh orang-orang kaya, dan berpotensi menjadi "jebakan" finansial:
-
Beban Utang Konsumtif: Salah satu ciri khas kelas menengah adalah ketergantungan pada skema cicilan untuk pemenuhan kebutuhan. Berbeda dengan individu kaya yang memanfaatkan utang sebagai leverage untuk akuisisi aset produktif seperti properti atau investasi bisnis, kelas menengah cenderung terjerat dalam pinjaman untuk barang-barang konsumtif seperti kredit kepemilikan rumah, kendaraan pribadi, atau bahkan pinjaman pendidikan. Pakar keuangan Jacquesdu Toit menyoroti bahwa pembelian barang mewah atau non-esensial seringkali dibiayai melalui utang, menciptakan beban finansial jangka panjang.
-
Obsesi Gadget dan Tren: Kelas menengah kerap tergiur untuk memiliki produk bermerek non-mewah terbaru, seperti gawai elektronik, pakaian, atau peralatan rumah tangga. Rob Whaley dari Horizon Finance Group mengamati, "Kadang mereka terjebak keinginan untuk selalu mengikuti tren, meski harus berutang." Keinginan untuk selalu tampil modern ini seringkali mengorbankan alokasi dana untuk investasi yang lebih produktif.
-
Investasi Pendidikan yang Berisiko: Pendidikan memang menjadi prioritas utama bagi kelas menengah, baik untuk sekolah swasta maupun perguruan tinggi. Mereka memandangnya sebagai jembatan menuju mobilitas sosial dan ekonomi yang lebih baik. Namun, Toit mengingatkan bahwa investasi pendidikan bisa menjadi bumerang jika jalur yang dipilih tidak selaras dengan minat atau prospek kerja yang menjanjikan. "Misalnya mengambil jurusan seni murni memang mengikuti passion, tapi belum tentu menjamin pendapatan stabil," ujarnya.
-
Kepemilikan Properti Sub-Urban: Marc Afzal, CEO Sell Quick California, menjelaskan bahwa kelas menengah umumnya memilih membeli rumah di pinggiran kota demi ruang dan kenyamanan, dengan cicilan yang panjang. Ini berbeda dengan orang kaya yang cenderung memiliki beragam properti premium sebagai aset investasi, atau kalangan bawah yang lebih sering memilih opsi sewa.
-
Kendaraan Mewah dengan Skema Kredit Jangka Panjang: Money coach Mary Vallieu mengungkapkan bahwa banyak keluarga kelas menengah membeli mobil dengan harga fantastis, berkisar Rp800 juta hingga Rp1 miliar, yang dibiayai melalui cicilan panjang hingga tujuh atau delapan tahun. Sementara itu, kalangan kaya cenderung membeli mobil secara tunai, dan kelompok berpenghasilan rendah umumnya menggunakan kendaraan bekas atau hibah keluarga.
-
Pengalaman Wisata Terjangkau: Alih-alih liburan eksklusif ala orang kaya, kelas menengah memilih paket wisata yang dianggap hemat namun tetap menjanjikan pengalaman berkesan. Konser, acara hiburan, dan perjalanan wisata menjadi bagian dari pengeluaran rutin mereka, seringkali tanpa pertimbangan dampak jangka panjang terhadap akumulasi kekayaan.
-
Upgrade Barang Kebutuhan Dasar: Kelas menengah cenderung membeli versi yang lebih baik dari kebutuhan dasar mereka, seperti ponsel pintar mahal atau peralatan dapur premium. Jake Claver dari Digital Ascension Group mengutarakan, "Mereka tak selalu memilih barang terbaik, tapi tetap ingin fitur lebih." Keinginan untuk memiliki barang dengan fitur tambahan ini, meskipun bukan yang paling mewah, tetap menguras pundi-pundi yang seharusnya bisa dialokasikan untuk investasi.
Meskipun kelas menengah mampu menikmati gaya hidup yang relatif nyaman, para pakar menyarankan agar pengeluaran mereka lebih diarahkan untuk menciptakan keamanan finansial jangka panjang. "Salah satu kunci membangun kekayaan adalah menyesuaikan belanja dengan nilai dan manfaat jangka panjang," tegas Toit. Ia menekankan pentingnya investasi, membangun bisnis, dan otomatisasi pengelolaan keuangan sebagai strategi vital. "Tujuannya bukan sekadar punya penghasilan, tapi membangun gaya hidup berkelanjutan yang memungkinkan pertumbuhan tanpa tekanan keuangan berlebihan," pungkasnya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar