Haluannews Ekonomi – Inisiatif strategis Waste-to-Energy (WtE) di Indonesia kini telah memasuki babak tender krusial, menarik perhatian global dengan partisipasi 24 perusahaan internasional berpengalaman. Program ini, yang digagas oleh Danantara Indonesia, bertujuan mengubah limbah menjadi sumber energi listrik yang berkelanjutan, sekaligus mendorong transfer teknologi vital kepada entitas lokal dan pemerintah daerah.

Related Post
Fadli Rahman, Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, menjelaskan bahwa seluruh peserta tender diwajibkan membentuk konsorsium. Langkah ini tidak hanya untuk memperkuat kapasitas implementasi proyek, tetapi juga untuk memastikan adanya pertukaran pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi industri dalam negeri. "Tender ini membuktikan komitmen Danantara dalam menjalankan proses dengan tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang transparan dan berbasis mitigasi risiko," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin lalu.

Pada fase awal, Danantara Indonesia memfokuskan pengembangan program WtE di empat kota strategis: Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Keempat lokasi ini dipilih berdasarkan potensi limbah dan kebutuhan energi yang signifikan.
Dari puluhan perusahaan yang bersaing, tiga raksasa industri dari Prancis, Tiongkok, dan Jepang berhasil lolos sebagai peserta tender. Mereka membawa rekam jejak dan keahlian global yang tidak diragukan lagi dalam pengelolaan limbah dan produksi energi. Berikut adalah profil singkat ketiga perusahaan tersebut:
1. Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Prancis)
Berdiri di Singapura sejak 1997, Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd adalah bagian integral dari grup multinasional Veolia asal Prancis. Perusahaan ini dikenal sebagai pemimpin global dalam pengelolaan air, limbah, dan energi, dengan jangkauan operasional di lebih dari 50 negara dan melayani jutaan pelanggan.
Di Indonesia, Veolia beroperasi melalui PT Veolia Services Indonesia. Jejaknya di tanah air mencakup pendirian pabrik daur ulang Polyethylene Terephthalate (PET) berkapasitas 25.000 ton per tahun di Kawasan Industri Rembang, Pasuruan. Pabrik ini tidak hanya memproduksi PET food grade bersertifikasi halal MUI, tetapi juga menjadi contoh nyata kolaborasi strategis. Melalui kemitraan dengan PT Tirta Investama (Danone-AQUA), PT Veolia Services Indonesia secara aktif berkontribusi dalam solusi pengurangan sampah plastik di Indonesia, termasuk peresmian pabrik daur ulang botol plastik PET pada Juni 2021 yang dihadiri oleh Menteri Perindustrian.
2. China Conch Venture Holding Limited (Tiongkok)
Berasal dari Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok, China Conch Venture Holding Limited didirikan pada tahun 2013. Perusahaan ini memiliki fokus utama pada pelestarian energi, perlindungan lingkungan, dan pengembangan infrastruktur. Terdaftar di Bursa Efek Hong Kong (kode saham 0586), perusahaan ini berafiliasi erat dengan Anhui Conch Group Co., Ltd., konglomerat terkemuka di Tiongkok dalam industri material bangunan.
Bisnis WtE menjadi segmen utama China Conch Venture Holding Limited, mencakup solusi insinerasi limbah, pengolahan limbah padat menjadi energi panas dan listrik, serta produksi peralatan pembangkit energi sisa panas. Perusahaan ini memiliki pengalaman kerja sama di Indonesia, salah satunya dengan PT Conch South Kalimantan Cement (PT CSKC), yang juga berada di bawah naungan Anhui Conch Group. PT CSKC dikenal sebagai "Wajib Pajak Besar" dan aktif dalam kegiatan sosial serta kemitraan dengan pemerintah daerah di Kalimantan Selatan.
3. Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang)
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (MHIECE) adalah pemain lama dan terkemuka dalam proyek lingkungan dan energi bersih di seluruh dunia. Anak perusahaan ini memiliki rekam jejak yang kuat dalam proyek WtE, termasuk proyek TuasOne Waste-to-Energy Plant senilai 750 juta dolar Singapura di Tuas South, Singapura, yang menjadi acuan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Di Tiongkok, MHIECE mengembangkan proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai, salah satu proyek WtE terbesar di dunia dengan nilai 11 miliar yen. Di sana, MHIECE mengolah 6.000 ton sampah setiap hari untuk menghasilkan 144 megawatt listrik. Di Jepang, perusahaan ini terus berinovasi, menandatangani kontrak pada tahun 2025 untuk meningkatkan efisiensi energi listrik di pusat insinerasi limbah padat di kota kelahirannya, Kanazawa, dan Miyazaki. Di Kanazawa, energi listrik yang dihasilkan dari 250 ton sampah per hari mencapai tiga megawatt.
Indonesia sendiri telah memanfaatkan teknologi MHIECE. Sejak 2019, mesin pengolah sampah produk MHIECE berkapasitas 100 ton sampah telah beroperasi di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) bersama PLN Nusantara Power. Teknologi ini mampu menghasilkan 750 kilowatt per jam listrik untuk penerangan di sekitar area pembuangan. Metode WtE yang diterapkan MHIECE di lebih dari 300 pabrik di seluruh dunia menggunakan insinerator tingkat tinggi yang efisien dalam membakar berbagai jenis limbah.
Keterlibatan tiga perusahaan raksasa ini dalam tender WtE Danantara Indonesia menandai langkah maju yang signifikan bagi upaya Indonesia dalam diversifikasi energi, pengelolaan limbah yang berkelanjutan, dan penciptaan nilai ekonomi dari sampah.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar