Haluannews Ekonomi – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berhasil mencatatkan kinerja impresif dalam perbaikan struktur pendanaan sepanjang tahun lalu. Fokus strategis ini membuahkan hasil signifikan, ditandai dengan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang solid, lonjakan rasio dana murah atau Current Account Savings Account (CASA), serta efisiensi biaya dana (Cost of Fund/CoF) yang semakin optimal.

Related Post
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa esensi bisnis perbankan berakar pada kemampuan menghimpun dana. "Jadi banking itu adalah funding game. Apa yang ingin kami bangun di BRI adalah fondasi funding franchise yang kuat. Intinya, kami berupaya keras memperbaiki struktur pendanaan kami," jelas Hery dalam konferensi pers paparan kinerja keuangan tahun 2025, seperti dilansir Haluannews.id.

Secara konsolidasi, total DPK BRI tumbuh 7,4% secara tahunan (yoy), mencapai angka impresif sekitar Rp1.466,84 triliun pada akhir tahun lalu. Pertumbuhan ini didorong oleh akselerasi signifikan pada giro sebesar 19,7% yoy dan tabungan yang naik 7,9% yoy, mengindikasikan penguatan basis pendanaan yang lebih stabil dan berbasis ritel, bukan hanya dari segmen wholesale. Seiring dengan peningkatan tersebut, rasio CASA BRI pada tahun 2025 melonjak menjadi 70,6%, naik dari 67,3% pada periode sebelumnya.
"Tren ini sangat positif. Dulu, posisi tabungan BRI jauh di bawah para pesaing. Kini, jarak dengan kompetitor utama kami semakin menipis, dan kami berambisi untuk memimpin di segmen ini, tentu saja dengan upaya yang berkelanjutan," tambah Hery.
Peningkatan porsi dana murah yang substansial ini memberikan dampak positif yang langsung terasa pada biaya dana bank. Tercatat, CoF BRI berhasil ditekan menjadi 2,9% pada akhir tahun 2025, turun signifikan dari 3,2% pada tahun 2024. Efisiensi ini menjadi indikator kuat keberhasilan strategi BRI dalam mengelola liabilitasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Networking dan Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto, menjelaskan bahwa pertumbuhan dana murah yang solid ini tak lepas dari strategi optimalisasi kanal digital. Inisiatif ini terbukti menunjukkan kinerja yang sangat positif dan menjadi tulang punggung penguatan basis pendanaan.
Ia memaparkan, aplikasi perbankan digital untuk nasabah ritel, BRImo, mencatat peningkatan pengguna yang luar biasa. Jumlah pengguna aktif melonjak 18,9% secara tahunan menjadi 45,9 juta di Desember 2025. Tidak hanya itu, nilai transaksi yang diproses melalui BRImo juga mencapai Rp7.076,9 triliun, tumbuh 26,4% yoy, menunjukkan adopsi yang masif dan transaksi yang aktif.
Sementara itu, aplikasi Qlola yang dirancang khusus untuk nasabah segmen menengah, komersial, dan korporasi, juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Jumlah pengguna aktif Qlola meningkat 48,1% yoy menjadi 113.000, dengan volume penjualan yang naik 36,2% yoy, mencapai Rp13.456 triliun.
Aquarius melanjutkan, dari sisi transaksi merchant, bisnis melalui BRI juga mengalami akselerasi pesat. Volume penjualan merchant naik 48,1% yoy menjadi Rp223,2 triliun. Demikian pula dengan layanan QRIS BRI yang menunjukkan tren peningkatan dramatis, dengan volume penjualan melonjak 100% yoy menjadi Rp85,6 triliun dan jumlah transaksi tumbuh 127,5% yoy, melampaui 782,8 miliar transaksi.
"Capaian ini secara tegas membuktikan bahwa transformasi digital yang dilakukan BRI tidak hanya berhasil memperkuat basis dana murah, tetapi juga secara signifikan memperluas ekosistem pembayaran digital yang inklusif, menjangkau seluruh lapisan masyarakat," pungkas Aquarius.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar