Teluk Persia Memanas: Kuwait Pangkas Minyak, Harga Melonjak!

Teluk Persia Memanas: Kuwait Pangkas Minyak, Harga Melonjak!

Haluannews Ekonomi – Kuwait mengambil langkah signifikan dengan memangkas produksi minyak mentah dan kapasitas operasional kilang penyulingannya. Keputusan ini dipicu oleh terhambatnya lalu lintas kapal tanker di Teluk Persia, menyusul peningkatan ancaman keamanan yang disinyalir berasal dari Iran.

COLLABMEDIANET

Otoritas Kuwait menjelaskan bahwa langkah ini merupakan tindakan antisipatif dan pencegahan di tengah eskalasi konflik di wilayah tersebut. Meskipun demikian, pemerintah belum merinci secara spesifik volume pemangkasan produksi yang diberlakukan. Pengurangan output ini digambarkan sebagai manuver preventif yang akan dievaluasi ulang berdasarkan dinamika situasi keamanan yang berkembang.

Teluk Persia Memanas: Kuwait Pangkas Minyak, Harga Melonjak!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kuwait Petroleum Corporation (KPC), perusahaan minyak nasional, menegaskan kesiapannya untuk mengembalikan tingkat produksi ke kapasitas normal segera setelah kondisi keamanan di kawasan memungkinkan. Sebagai salah satu pemain kunci di pasar energi global, Kuwait tercatat sebagai produsen minyak terbesar kelima di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dengan volume produksi mencapai sekitar 2,6 juta barel per hari pada bulan Januari sebelumnya.

Ketegangan geopolitik yang memuncak di kawasan Teluk telah secara efektif melumpuhkan pergerakan kapal tanker melalui Selat Hormuz. Jalur maritim vital ini merupakan koridor utama bagi ekspor minyak dari negara-negara Teluk, di mana sekitar 20% dari total konsumsi minyak global bergantung pada kelancaran lalu lintas di selat sempit tersebut.

Implikasinya, pasokan minyak mentah kini menumpuk secara signifikan di wilayah Timur Tengah, seiring dengan terhentinya operasional kapal tanker. Kondisi ini memaksa negara-negara produsen minyak di kawasan untuk mengurangi output mereka karena kapasitas penyimpanan yang semakin terbatas. Bahkan Irak, salah satu produsen utama, dilaporkan telah memangkas produksinya hingga 1,5 juta barel per hari setelah menghadapi kendala kapasitas penyimpanan yang penuh, demikian ungkap seorang pejabat pemerintah yang dikutip oleh Reuters.

Natasha Kaneva, Kepala Riset Komoditas Global di JPMorgan, menyoroti bahwa pasar kini tidak hanya bergulat dengan risiko geopolitik semata, melainkan juga menghadapi disrupsi operasional yang konkret pada rantai pasokan energi global. "Pasar saat ini tidak lagi sekadar mengkalkulasi risiko geopolitik, namun telah mulai merasakan dampak gangguan operasional yang sangat nyata," ujar Kaneva, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters pada Minggu (8/3/2026).

Proyeksi menunjukkan, apabila konflik antara Amerika Serikat dan Iran berlanjut melampaui tiga minggu, negara-negara Teluk diperkirakan akan kehabisan kapasitas penyimpanan, yang pada gilirannya akan memaksa mereka untuk menghentikan produksi minyak sepenuhnya. Skenario ini berpotensi besar mendorong harga minyak dunia melampaui level US$100 per barel. JPMorgan lebih lanjut memprediksi bahwa pemangkasan produksi minyak global dapat melampaui 4 juta barel per hari, terutama jika Selat Hormuz masih tetap tertutup hingga pekan mendatang.

Volatilitas harga yang signifikan sudah mulai terasa di pasar energi. Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak mencatat kenaikan mingguan terbesar sepanjang sejarah perdagangan berjangka. Minyak mentah Brent ditutup pada US$92,69 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$90,90 per barel.

Dampak konflik tidak hanya terbatas pada sektor minyak, tetapi juga mengganggu pasokan gas alam global. Qatar, yang merupakan kontributor sekitar 20% dari total ekspor LNG dunia, dilaporkan telah menghentikan produksi gas alam cairnya menyusul serangan yang dilancarkan oleh Iran.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar