Suku Bunga Kredit Sulit Turun? Ini Kata Bankir!

Suku Bunga Kredit Sulit Turun? Ini Kata Bankir!

Haluannews Ekonomi – Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memberikan penjelasan terkait lambatnya penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dan suku bunga tabungan oleh perbankan, meskipun Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini.

COLLABMEDIANET

Hery Gunadi, Ketua Umum Perbanas, menyatakan bahwa industri perbankan saat ini berada dalam kondisi likuiditas yang cukup memadai. Penurunan suku bunga acuan BI, imbal hasil instrumen surat berharga, dan penurunan ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) BI turut memperkuat likuiditas.

 Suku Bunga Kredit Sulit Turun? Ini Kata Bankir!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Likuiditas yang baik ini tentu akan berdampak positif bagi perbankan dalam menyalurkan kredit," ujar Hery dalam acara Perbanas Review of Indonesia’s Mid-Year Economy 2025 di Jakarta, Kamis (31/7/2025).

Namun, Hery menekankan bahwa penyaluran kredit tidak hanya bergantung pada ketersediaan dana, tetapi juga pada permintaan dari masyarakat. Permintaan kredit sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi.

"Permintaan kredit berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi. Saat ini, pertumbuhan ekonomi sedikit terpengaruh oleh faktor global, tensi politik, dan perang tarif," jelasnya.

Ketidakpastian penurunan suku bunga acuan global oleh bank sentral AS (The Fed) akibat inflasi tinggi di AS juga turut mempengaruhi. Hal ini berdampak pada ekspektasi penurunan Fed Fund Rate (FFR) yang akan mempengaruhi suku bunga acuan negara lain.

Hery menjelaskan bahwa transmisi penurunan suku bunga acuan ke SBDK membutuhkan waktu. Penurunan suku bunga deposito tidak terjadi secara otomatis karena tenor deposito bervariasi, mulai dari satu bulan hingga satu tahun.

Proses transmisi terjadi secara bertahap karena meskipun likuiditas sudah longgar, permintaan kredit masih belum kuat.

Hery berharap kebijakan fiskal yang lebih baik, seperti peningkatan belanja pemerintah, dapat mendorong pertumbuhan penyaluran kredit pada semester II-2025. Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan 3 juta rumah diharapkan dapat memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap aktivitas ekonomi.

"Jika program-program pemerintah tersebut berjalan, efeknya akan sangat besar dan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi pada paruh waktu kedua tahun ini," tambahnya.

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa SBDK perbankan telah menurun secara bertahap dari 9,20% pada Januari menjadi 9,16% pada Juni 2025. Sementara itu, penyaluran kredit perbankan mengalami perlambatan, dengan pertumbuhan 7,7% secara tahunan pada Juni 2025.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar