Haluannews Ekonomi – Platform e-commerce Shopee, di bawah naungan perusahaan teknologi Sea yang berbasis di Singapura, akhirnya mencatatkan laba operasional tahunan pertamanya pada tahun 2025. Keuntungan fantastis sebesar US$581 juta atau setara Rp9,76 triliun ini diklaim berkat investasi masif di bidang logistik dan transformasi layanan pengiriman. Namun, kabar baik ini tidak serta merta membuat pasar gembira; harga saham Sea justru anjlok 16,5% pada hari Selasa karena pendapatan tahunan secara keseluruhan gagal memenuhi ekspektasi investor.

Related Post
Pencapaian laba operasional Shopee di tahun 2025 merupakan titik balik signifikan, membalikkan kerugian sebesar US$139 juta yang diderita pada tahun 2024. Ini adalah laba tahunan perdana sejak Sea mulai mengungkapkan hasil keuangan per segmen. Forrest Li, Chairman dan CEO Sea, dalam konferensi pers pada Selasa (10/3/2026), menegaskan bahwa "hasil kuat tahun 2025 merupakan validasi atas efektivitas pilihan strategis kami untuk Shopee."

Secara keseluruhan, induk perusahaan, Sea, juga mencatat kinerja positif dari divisi lain. Garena, divisi game global Sea, membukukan laba operasional sebesar US$1,18 miliar, melonjak 21% dibandingkan tahun 2024. Sementara itu, bisnis keuangan digitalnya, Monee, mencatatkan laba operasional yang tumbuh impresif 38% menjadi US$973 juta. Untuk kuartal Oktober-Desember, Sea melaporkan laba bersih sebesar US$397 juta, naik 67% dari periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pendapatan yang meningkat 38% menjadi US$6,8 miliar.
Misteri Penurunan Saham di Tengah Kinerja Gemilang
Di balik angka-angka cemerlang tersebut, ada kekecewaan pasar yang memicu anjloknya harga saham. Laba per saham kuartalan Sea hanya mencapai US$0,63, jauh di bawah perkiraan rata-rata analis sebesar US$0,75. Ini menjadi pemicu utama penurunan harga saham. Harga penutupan pada hari Selasa sebesar US$87,82, merosot tajam dari sekitar US$190 pada Oktober tahun lalu, meskipun perusahaan telah mengumumkan program pembelian kembali saham senilai hingga US$1 miliar pada November tahun lalu.
Investasi Shopee di bidang logistik memang masif dan strategis. SPX Express, layanan logistik khusus Shopee yang beroperasi di Asia Tenggara, Taiwan, dan Brasil, kini memproses lebih dari 30 juta paket per hari. Forrest Li menekankan pentingnya layanan pengiriman instan dan pengiriman di hari yang sama, khususnya di daerah perkotaan padat penduduk, untuk memenuhi kebutuhan pembeli yang mengutamakan kecepatan dan kenyamanan.
Ekspansi platform e-commerce ini juga didukung oleh basis pelanggan yang terus berkembang pesat. Nilai Barang Dagangan Kotor (GMV) tahunan Shopee pada tahun 2025 mencapai US$127,4 miliar, naik 27% dari tahun sebelumnya. Untuk tahun 2026, perusahaan menargetkan kenaikan GMV tahunan Shopee sekitar 25%.
Dominasi Shopee di pasar Asia Tenggara juga tak terbantahkan. Menurut TMO Group, sebuah agensi perdagangan digital, Shopee terus mengungguli pemain lain di Asia Tenggara berdasarkan jumlah pengunjung situs web marketplace antara Januari dan Maret. Perusahaan ini memegang 79% pangsa pasar di Vietnam, 61% di Malaysia, dan 63% di Thailand.
Analis Maybank Securities Singapura, Hussaini Saifee, menilai Sea mencatatkan pertumbuhan yang kuat pada kuartal keempat tahun 2025. Namun, ia menambahkan bahwa "margin melemah karena investasi pemenuhan yang didorong oleh biaya operasional di muka." Saifee menggambarkan laba yang lebih lemah dari perkiraan ini sebagai "penderitaan jangka pendek untuk keuntungan jangka panjang," mengindikasikan bahwa investasi saat ini diharapkan akan membuahkan hasil yang lebih besar di masa depan.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar