Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah memulai perdagangan hari ini, Rabu (1/10/2025), dengan tekanan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka pada level Rp16.670 per dolar AS, melemah 0,06% dibandingkan penutupan kemarin yang berada di Rp16.660 per dolar AS.

Related Post
Indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,05% ke level 97,82 pada pukul 09.03 WIB. Meskipun demikian, DXY sebelumnya ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, kekhawatiran pasar terhadap potensi government shutdown di AS menekan dolar AS, mendekati level terendah dalam sepekan. Kondisi ini berisiko menunda rilis data ekonomi penting AS, termasuk data ketenagakerjaan (NFP).
Data tenaga kerja AS melalui Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) juga menunjukkan sinyal pelemahan, dengan perekrutan yang melambat. Hal ini turut menekan dolar AS dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu, dari dalam negeri, pasar menantikan rilis data inflasi September 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Konsensus pasar yang dihimpun Haluannews.id dari 11 institusi memperkirakan inflasi September akan naik 0,10% secara bulanan (mtm). Secara tahunan, inflasi diproyeksikan mencapai 2,51% (yoy), dengan inflasi inti stagnan di 2,17%.
Kenaikan inflasi ini diperkirakan didorong oleh kenaikan harga pangan, seperti daging ayam dan cabai merah. Data inflasi yang terkendali dan sesuai target Bank Indonesia (BI) dianggap positif karena memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan kebijakan moneter akomodatif tanpa mengganggu stabilitas rupiah. Para pelaku pasar akan mencermati dengan seksama data inflasi ini untuk mengukur arah kebijakan moneter BI ke depan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar