Rupiah Tersungkur! Dolar AS Melambung, Pasar Global Bergejolak

Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Selasa (24/2/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 0,12%, menempatkan posisinya di level Rp16.805 per dolar AS, menurut data dari Refinitiv. Kondisi ini berbalik arah dari performa impresif sehari sebelumnya, Senin (23/2/2026), di mana rupiah sempat menguat tajam 0,44% dan ditutup pada Rp16.785 per dolar AS.

COLLABMEDIANET

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) justru terpantau menguat, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian global. Pada pukul 09.00 WIB, DXY naik 0,09% ke level 97,796. Penguatan ini terjadi setelah DXY sempat terkoreksi 0,09% pada penutupan perdagangan Senin kemarin, berada di posisi 97,706.

Rupiah Tersungkur! Dolar AS Melambung, Pasar Global Bergejolak
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari bayang-bayang sentimen eksternal yang kembali memanas, khususnya terkait kebijakan tarif Amerika Serikat. Pasar global tengah mencermati dinamika terbaru setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian tarif darurat, namun di saat yang sama, ancaman kebijakan tarif lanjutan kembali mengemuka. Situasi ambigu ini menciptakan ketidakpastian perdagangan yang membuat pelaku pasar kembali bersikap hati-hati dan cenderung mengalihkan investasi ke dolar AS, yang dianggap lebih aman.

Selain isu tarif, prospek kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), juga menjadi perhatian utama. Beberapa pejabat The Fed secara konsisten menyuarakan kewaspadaan terhadap laju inflasi. Hal ini mengindikasikan bahwa suku bunga acuan The Fed berpotensi bertahan di level tinggi setidaknya hingga pertengahan tahun, sambil menunggu rilis data kunci seperti tenaga kerja dan inflasi yang akan datang. Sikap hawkish ini turut menopang kekuatan dolar AS.

Kombinasi antara ketidakpastian kebijakan perdagangan global dan ekspektasi suku bunga The Fed yang masih ketat, secara inheren meningkatkan sensitivitas pergerakan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Investor cenderung menahan diri atau beralih ke aset yang lebih aman, menyebabkan tekanan depresiasi pada mata uang seperti rupiah di tengah gejolak sentimen global hari ini.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar