Rupiah Tak Berdaya, Dolar AS Tembus Rp16.785: Ada Apa Ini?

Rupiah Tak Berdaya, Dolar AS Tembus Rp16.785: Ada Apa Ini?

Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren depresiasi yang mengkhawatirkan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tertekan oleh kombinasi sentimen domestik dan eksternal. Pada penutupan perdagangan Kamis, 8 Januari 2026, mata uang Garuda tercatat melemah 0,09% dan parkir di level Rp16.785 per dolar AS, melanjutkan rentetan pelemahan selama lima hari berturut-turut sejak awal tahun.

COLLABMEDIANET

Pergerakan rupiah sepanjang hari ini bahkan sempat menyentuh level psikologis krusial di Rp16.800 per dolar AS sebelum sedikit meredam penurunannya. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 98,713 pada pukul 15.00 WIB, menandakan dominasi dolar di pasar global.

Rupiah Tak Berdaya, Dolar AS Tembus Rp16.785: Ada Apa Ini?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tekanan terhadap rupiah diwarnai oleh rilis data fiskal domestik. Konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 yang memaparkan realisasi penuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2025 menjadi sorotan utama. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa defisit APBN per Desember 2025 membengkak menjadi Rp695,1 triliun, atau setara dengan 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibandingkan defisit tahun 2024 yang sebesar 2,3% dari PDB, sekaligus melampaui target awal APBN 2025 yang dipatok 2,53% dari PDB.

"Defisit yang naik ke 2,92% dari rencana awal 2,53% ini merupakan misi strategis untuk menjaga momentum ekonomi tetap ekspansif melalui kebijakan countercyclical. Defisit memang bisa saja dibuat nol, namun langkah tersebut berisiko menekan pertumbuhan ekonomi secara signifikan," jelas Menteri Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (8/1/2026), seperti dikutip Haluannews.id.

Lebih lanjut, postur fiskal menunjukkan keseimbangan primer APBN juga mengalami defisit sebesar Rp180,7 triliun. Dari sisi penerimaan, realisasi pendapatan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7% dari target, yang didominasi oleh penerimaan pajak sebesar Rp1.917,6 triliun, diikuti oleh kepabeanan dan cukai Rp300,3 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp534,1 triliun. Sementara itu, belanja negara terealisasi Rp2.602,3 triliun, atau sekitar 96,3% dari pagu anggaran.

Di ranah eksternal, pergerakan rupiah juga masih dibayangi oleh dinamika dolar AS yang relatif stabil di tengah ketidakpastian data ekonomi global. Pasar keuangan saat ini mencermati serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis sepanjang pekan ini. Data terbaru mengindikasikan bahwa jumlah pembukaan lapangan kerja di AS pada November turun lebih dalam dari perkiraan, disertai perlambatan laju perekrutan. Ini memberikan sinyal bahwa permintaan tenaga kerja mulai mendingin, berpotensi mempengaruhi prospek kebijakan moneter Federal Reserve.

Namun, di sisi lain, aktivitas sektor jasa AS pada Desember justru menunjukkan perbaikan, sementara pertumbuhan payroll sektor swasta tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kondisi data ekonomi AS yang beragam ini menciptakan volatilitas dan kehati-hatian di pasar global, yang turut memengaruhi sentimen terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar