Haluannews Ekonomi – Jakarta – Awal pekan perdagangan, Senin (5/1/2025), membawa angin segar bagi nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda ini dibuka perkasa di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), menembus level Rp16.700/US$. Data Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id menunjukkan apresiasi signifikan sebesar 0,09% pada sesi pembukaan pagi ini, sebuah performa yang kontras dengan bayang-bayang ketegangan geopolitik global yang masih menyelimuti pasar.

Related Post
Perkasa di awal pekan, rupiah seolah membalas pelemahan 0,27% yang terjadi pada penutupan Jumat (2/1/2025) lalu, di mana ia bertengger di Rp16.715/US$. Namun, dinamika pasar tak sepenuhnya berpihak pada rupiah. Indeks dolar AS (DXY) justru menunjukkan tren sebaliknya. Pada pukul 09.00 WIB, DXY terpantau melanjutkan penguatan 0,14% ke level 98,567, menandai reli impresif selama lima hari perdagangan berturut-turut.

Pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari interaksi kompleks sentimen eksternal dan domestik. Secara eksternal, dominasi DXY menjadi pedang bermata dua. Meskipun rupiah menguat, tren penguatan dolar AS secara global tetap menjadi ancaman laten bagi mata uang emerging market. Pemicunya tak lain adalah eskalasi geopolitik pasca intervensi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Insiden ini memicu investor untuk kembali memburu aset ‘safe haven’ seperti dolar AS.
Analisis dari Franklin Templeton yang dikutip Haluannews.id bahkan menyoroti bahwa langkah unilateral AS ini berpotensi mengikis kepercayaan terhadap dolar sebagai aset aman, sekaligus membangkitkan kekhawatiran akan erosi norma-norma hubungan internasional. Implikasi jangka panjangnya, persepsi AS yang siap bertindak militer secara sepihak dapat memprovokasi negara lain dengan agenda geopolitik serupa, menambah lapisan ketidakpastian dalam lanskap ekonomi global.
Di ranah domestik, sorotan utama pelaku pasar tertuju pada pengumuman data inflasi Desember 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini, Senin (5/1/2025). Data ini krusial sebagai indikator kesehatan ekonomi. Konsensus pasar yang berhasil dihimpun Haluannews.id dari dua belas institusi keuangan terkemuka memproyeksikan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,62% (mtm) dan inflasi tahunan 2,94% (yoy). Sementara itu, inflasi inti diperkirakan stabil di level 2,44% (yoy). Angka-angka ini akan menjadi barometer penting bagi kebijakan moneter ke depan dan sentimen investasi di dalam negeri.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar