Rupiah Melesat di Penghujung Pekan: Dolar AS Goyang, Sinyal Positif?

Rupiah Melesat di Penghujung Pekan: Dolar AS Goyang, Sinyal Positif?

Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia menutup pekan dengan sentimen positif. Nilai tukar rupiah menunjukkan performa impresif pada perdagangan Jumat (13/2/2026) pagi, berhasil menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, mata uang Garuda dibuka di level Rp16.805 per dolar AS, terapresiasi 0,03%. Penguatan ini menjadi angin segar setelah sehari sebelumnya, Kamis (12/2/2026), rupiah sempat melemah 0,21% dan ditutup pada posisi Rp16.810 per dolar AS. Meskipun demikian, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,04% ke 96,965 pada pukul 09.00 WIB, melanjutkan kenaikan 0,09% dari penutupan sebelumnya di 96,925.

COLLABMEDIANET

Pergerakan rupiah di penghujung pekan ini tak lepas dari pengaruh sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, fokus pelaku pasar tertuju pada serangkaian agenda penting, termasuk gelaran Indonesia Economic Outlook 2026. Acara ini diharapkan mampu memberikan gambaran jelas mengenai arah kebijakan ekonomi serta prospek pertumbuhan Indonesia di masa mendatang, yang tentunya akan memengaruhi persepsi investor dan stabilitas rupiah.

Rupiah Melesat di Penghujung Pekan: Dolar AS Goyang, Sinyal Positif?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi eksternal, dinamika dolar AS masih menjadi barometer utama bagi pergerakan mata uang dunia, termasuk rupiah. Menariknya, meskipun DXY pagi ini sedikit menguat, secara mingguan dolar AS masih berpotensi mencatatkan pelemahan. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi penguatan beberapa mata uang mayor lainnya serta munculnya keraguan terhadap ketahanan fundamental ekonomi Paman Sam.

Data terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan klaim pengangguran memang menurun, namun laju penurunannya tak seoptimis ekspektasi pasar. Hal ini menyusul laporan pertumbuhan lapangan kerja pada Januari yang melampaui perkiraan, meski sejumlah analis menilai kenaikan tersebut belum mencerminkan kekuatan pasar tenaga kerja yang merata. Sektor-sektor seperti kesehatan, bantuan sosial, dan konstruksi masih menjadi penopang utama, sementara revisi data juga mengindikasikan adanya periode di mana payrolls sempat negatif dalam beberapa bulan sepanjang tahun 2025.

Melihat kondisi ini, pasar masih cenderung memproyeksikan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada tahun ini, dengan pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada bulan Juni. Pelaku pasar juga berpandangan bahwa selama tidak ada kejutan signifikan dari data inflasi, pergerakan dolar AS cenderung akan bergerak konsolidatif dalam jangka pendek. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap rilis data ekonomi AS dan pernyataan pejabat The Fed akan terus menjadi kunci bagi pergerakan rupiah ke depan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar