Haluannews Ekonomi – Mata uang Garuda, Rupiah, terpaksa mengakui keunggulan Dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (12/2/2026). Nilai tukar rupiah ditutup melemah signifikan, menembus level Rp16.810 per dolar AS, mengakhiri tren penguatan yang telah berlangsung selama tiga hari beruntun. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen penguatan dolar di pasar global yang dipicu oleh data ekonomi AS yang impresif.

Related Post
Berdasarkan data dari Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, rupiah terdepresiasi sebesar 0,21% pada akhir sesi perdagangan. Sejak pembukaan, tekanan sudah terasa. Rupiah memulai hari di level Rp16.785/US$, melemah 0,06%, dan terus bergerak dalam rentang Rp16.785 hingga Rp16.830 sepanjang hari, menunjukkan dominasi tekanan jual terhadap mata uang domestik.

Kenaikan Dolar AS ini tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) yang terpantau menguat tipis 0,03% ke level 96,876 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan DXY ini menjadi indikator bahwa permintaan terhadap aset berdenominasi dolar sedang meningkat, memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang cenderung sensitif terhadap pergerakan dolar global.
Pemicu utama di balik perkasa Dolar AS adalah rilis data ketenagakerjaan AS yang melampaui ekspektasi pasar secara signifikan. Angka-angka positif ini memperkuat optimisme terhadap prospek ekonomi Negeri Paman Sam, mendorong investor untuk beralih ke aset yang lebih aman dan berdenominasi dolar.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 130.000 pekerjaan baru di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls/NFP) pada Januari 2026. Angka ini jauh melampaui proyeksi pasar yang hanya memperkirakan 70.000 pekerjaan baru, dan juga lebih tinggi dari revisi data Desember yang sebesar 48.000. Ini menunjukkan momentum pertumbuhan pasar tenaga kerja AS yang kuat.
Perbaikan juga terlihat pada tingkat pengangguran AS, yang turun tipis menjadi 4,3% di Januari 2026 dari 4,4% pada Desember. Penurunan ini juga lebih baik dari ekspektasi pasar. Penambahan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor perawatan kesehatan, bantuan sosial, dan konstruksi, sementara sektor keuangan dan pemerintahan justru mencatat pengurangan tenaga kerja. Data-data ini memberikan amunisi bagi Dolar AS untuk terus menguat, menekan mata uang mitra dagang utamanya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar