Haluannews Ekonomi – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. Sentimen negatif ini tak luput mengguncang Indonesia, di mana terjadi arus keluar modal asing (capital outflow) hingga Rp 1 triliun sepanjang Maret 2026. Kondisi ini menjadi sinyal merah bagi investor yang mencari stabilitas di tengah ketidakpastian.

Related Post
Farash Farich, Chief Investment Officer BNI Asset Management, mengonfirmasi bahwa gelombang capital outflow ini sebagian besar menghantam pasar saham, memicu koreksi berkelanjutan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tak hanya itu, pasar obligasi juga merasakan dampaknya, terlihat dari kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) yang mengindikasikan kecemasan investor terhadap prospek investasi jangka pendek di tengah ketidakpastian. Situasi ini menyoroti kerentanan pasar domestik terhadap dinamika global.

Pertanyaannya kini, bagaimana para pengelola dana jumbo menyikapi arah investasi di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat? Strategi investasi seperti apa yang diterapkan oleh manajer investasi (MI) untuk melindungi portofolio dan mencari peluang di tengah badai geopolitik ini? Untuk mengupas tuntas hal tersebut, Haluannews.id menghadirkan dialog eksklusif dengan Farash Farich, Chief Investment Officer BNI Asset Management, dalam program Power Lunch pada Selasa, 31 Maret 2026. Dalam sesi tersebut, Farash membeberkan pandangannya serta langkah-langkah strategis yang diambil BNI Asset Management untuk menghadapi volatilitas pasar dan mengoptimalkan kinerja investasi di tengah gejolak global.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar