Haluannews Ekonomi – Kekhawatiran terhadap keamanan siber menjadi batu sandungan utama bagi hampir separuh (48%) divisi keuangan perusahaan di Indonesia dalam mengadopsi sistem transaksi treasury secara real-time. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi teratas di antara delapan negara yang disurvei oleh HSBC.

Related Post
Ray Suvrodeep, Head of Treasury Solutions Group, Global Payments Solutions HSBC Singapura, menekankan pentingnya adaptasi departemen keuangan di Asia Pasifik dalam menghadapi ketidakpastian global. Menurutnya, akses informasi dan kemampuan bertindak secara real-time adalah kunci efektivitas pengelolaan keuangan perusahaan.

Suvrodeep menjelaskan bahwa sistem treasury real-time memungkinkan peningkatan efisiensi, pengambilan keputusan yang lebih cepat dan efektif. Namun, implementasinya terhambat oleh kurangnya sumber daya manusia yang terampil dan anggaran yang memadai.
Survei HSBC bertajuk "AI dan Tren Digitalisasi Keuangan Perusahaan Masa Depan" mengungkapkan bahwa risiko siber menjadi perhatian utama. Perlindungan data menjadi krusial di tengah maraknya kasus kebocoran data pribadi.
Meskipun demikian, para pelaku treasury di Indonesia menyadari potensi besar otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan efisiensi dan pengambilan keputusan. AI dapat memberikan prediksi yang lebih akurat terkait arus kas dan transaksi lindung nilai, terutama dalam menghadapi volatilitas mata uang dan suku bunga.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar