Resesi China: Jutaan Lulusan Jadi ‘Anak Ekor Busuk’!

Resesi China: Jutaan Lulusan Jadi 'Anak Ekor Busuk'!

Haluannews Ekonomi – Gelombang PHK dan sulitnya mencari pekerjaan sesuai bidang studi tengah melanda para lulusan muda di China. Fenomena ini menciptakan istilah "anak ekor busuk," merujuk pada para sarjana yang terpaksa menerima pekerjaan bergaji rendah dan bergantung pada orang tua, mirip nasib proyek properti mangkrak yang membebani ekonomi Negeri Tirai Bambu.

COLLABMEDIANET

Laporan Haluannews.id mengungkap kesaksian beberapa lulusan universitas ternama yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai keahliannya. Hu Die, sarjana desain, mengaku pesimistis melihat peluang kerja di bidangnya. Li Mengqi, lulusan teknik kimia, bahkan telah menganggur selama delapan bulan. Chen Yuyan, lulusan vokasi, terpaksa menjadi petugas sortir paket karena minimnya lowongan kerja yang sesuai dan menuntut pengalaman kerja yang sulit didapatkan para fresh graduate.

Resesi China: Jutaan Lulusan Jadi 'Anak Ekor Busuk'!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Zak Dychtwald dari Young China Group menyebut ini sebagai krisis pasar kerja yang serius. Ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan yang tersedia menjadi masalah utama. Zhou Yun dari University of Michigan menambahkan, meski lulusan jurusan AI dan otomatisasi banyak dicari, persaingan ketat dan penyusutan industri startup membuat banyak sarjana kesulitan. Industri internet dan pendidikan yang dulunya menjadi penyerap utama lulusan kini juga mengalami penurunan.

Eli Friedman dari Cornell University melihat pergeseran budaya sebagai faktor penting. Generasi muda China kini lebih enggan menerima pekerjaan rendah kualitas atau tidak stabil, berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka juga enggan memulai usaha kecil, sebuah pilihan yang dulunya umum. Fenomena "tangping" atau "merunduk" semakin marak, di mana anak muda memilih mundur dari persaingan kerja yang ketat.

Dampak psikologisnya pun signifikan. Pengangguran berkepanjangan tak hanya menciptakan ketidakpastian ekonomi, tetapi juga menghilangkan martabat dan tujuan hidup. Harapan akan masa depan yang lebih baik lewat pendidikan pun sirna.

Tahun ini, China akan mencetak rekor jumlah lulusan universitas, mencapai 12,22 juta orang. Pemerintah mengakui urgensi solusi atas masalah ini. Laporan Kerja Pemerintah 2025 mencantumkan rencana mengatasi pengangguran muda, termasuk perluasan peluang kerja, bantuan keuangan, dan dukungan kewirausahaan. Namun, China juga menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil di sektor manufaktur, diperkirakan mencapai 30 juta pekerja pada 2025. Tantangan besar ini menghantui masa depan ekonomi China.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar