Haluannews Ekonomi – Leonid Radvinsky, pemilik OnlyFans, platform langganan konten dewasa yang meraup pendapatan US$ 308 juta, tengah menjadi sorotan. Bukan karena kesuksesan bisnisnya yang fantastis, namun karena niat filantropinya yang justru menuai kecaman. Forbes mencatat kekayaan Radvinsky mencapai US$ 3,8 miliar atau sekitar Rp 61 triliun. Dengan kekayaan selangit tersebut, Radvinsky melalui LR Foundation berencana mendanai riset kanker senilai US$ 23 juta dan menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk amal.

Related Post
Namun, rencana mulia ini berbuah kontroversi. Tahun lalu, Radvinsky dan istrinya menuai kecaman setelah berjanji menyumbangkan US$ 11 juta (sekitar Rp 178 miliar) kepada Israel melalui American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Hal ini memicu gelombang protes dari para kreator OnlyFans yang menganggap AIPAC sebagai kelompok pro-Israel yang terlibat dalam konflik Israel-Palestina. Mereka menyerukan boikot dan pindah ke platform alternatif, menuding Radvinsky mendukung genosida terhadap rakyat Palestina. Radvinsky sendiri membantah telah memberikan sumbangan tersebut.

Kasus ini bukanlah yang pertama. Industri pornografi, meskipun menghasilkan keuntungan besar, seringkali menghadapi penolakan terhadap upaya filantropinya. Pornhub, misalnya, pernah ditolak oleh Yayasan Susan G. Komen untuk sumbangan US$ 75.000 untuk riset kanker payudara. Alasannya? Reputasi negatif industri pornografi dapat mencoreng citra lembaga penerima donasi, sehingga membuat calon donatur lain ragu untuk memberikan sumbangan.
Fenomena ini menunjukkan dilema yang dihadapi para pelaku bisnis dalam industri kontroversial. Meskipun memiliki niat baik untuk beramal, reputasi industri yang melekat dapat menghambat upaya filantropi mereka. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa niat baik saja tidak cukup, citra dan reputasi juga berperan penting dalam kegiatan sosial.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar