Haluannews Ekonomi – Terungkap fakta mengejutkan di balik berdirinya bank pertama di Indonesia, Bank Negara Indonesia (BNI). Ide brilian ini ternyata digagas oleh dua tokoh ekonomi kenamaan, Margono Djojohadikusumo dan Soerachman, tak lama setelah proklamasi kemerdekaan. Tahukah Anda? Margono Djojohadikusumo adalah kakek dari Presiden RI terpilih, Prabowo Subianto.

Related Post
Margono dan Soerachman menyadari betul kebutuhan mendesak Indonesia akan bank sentral. Namun, keduanya memiliki pandangan berbeda mengenai cara mewujudkannya. Margono, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung, berpendapat bahwa bank sentral harus dibangun dari fondasi kekuatan bangsa sendiri, bukan meneruskan warisan institusi keuangan asing.

Semangat nasionalisme Margono berakar dari pengalaman pahit era kolonial, di mana Indonesia tidak memiliki bank nasional milik pribumi. Momen kemerdekaan dianggap sebagai momentum emas untuk mendirikan bank sentral yang benar-benar independen.
Namun, Menteri Kemakmuran Soerachman memiliki pandangan yang lebih pragmatis. Menurutnya, seperti dikutip dari buku "Dari De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia (2014)", Indonesia cukup menghidupkan kembali De Javasche Bank (DJB) bentukan Belanda. DJB dianggap sudah berpengalaman mengawal ekonomi negara dan memiliki sumber daya manusia yang mumpuni.
Di tengah perdebatan sengit, Belanda datang kembali dengan niat menjajah Indonesia. Mereka berupaya menghidupkan kembali DJB sebagai bank sentral berdasarkan izin Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 2 Januari 1946, seperti yang tertulis dalam buku "Semarang Sebagai Simpul Ekonomi (2022)".
Keberadaan DJB jelas mengancam kedaulatan ekonomi Indonesia. Terlebih lagi, DJB berencana mencetak dan mengedarkan uang buatan Belanda untuk mengacaukan perekonomian. Kondisi ini semakin memperkuat urgensi pendirian bank sentral baru.
Gagasan Margono semakin relevan dengan situasi yang berkembang. Kakek Prabowo Subianto ini bergerak cepat merealisasikan idenya. Ia bahkan telah mendapatkan restu dari Soekarno dan Hatta untuk mendirikan bank nasional bernama Bank Negara Indonesia sejak September 1945. Margono juga mengurus yayasan perbankan milik negara bernama Yayasan Poesat Bank Indonesia.
Pada 5 Juli 1946, pemerintah secara resmi mendirikan Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai bank sentral berdasarkan Perpu No.2 tahun 1946. Selain menjalankan fungsi bank sentral, BNI juga diberi wewenang untuk melakukan kegiatan bank umum, seperti pemberian kredit, penerbitan obligasi, dan penerimaan simpanan giro, deposito, atau tabungan.
Margono Djojohadikusumo ditunjuk sebagai pemimpin pertama BNI. Modal awal bank ini berasal dari patungan rakyat Indonesia. BNI kemudian menjadi garda terdepan dalam pertempuran ekonomi melawan Belanda yang semakin agresif dengan ekspansi DJB.
Persaingan antara BNI dan DJB menciptakan dualisme bank sentral di Indonesia. Situasi ini semakin memanas ketika BNI menerbitkan uang bernama Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk menyaingi uang buatan DJB, yang mengeluarkan uang NICA. Perang mata uang pun tak terhindarkan.
Namun, agresi militer Belanda membuat operasional BNI terhambat. Banyak cabang BNI yang tutup dan kekayaannya dirampas. Meski demikian, kegagalan ini murni disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu agresi Belanda.
Setelah perang berakhir pada tahun 1949, BNI kembali aktif. Namun, pada tahun 1953, tugas BNI sebagai bank sentral memudar setelah pemerintah mengambil alih DJB dan mengubahnya menjadi Bank Indonesia. Bank Indonesia kemudian ditunjuk sebagai bank sentral. Puncaknya terjadi pada tahun 1968 ketika status BNI sebagai bank sentral resmi dicabut dan diubah menjadi bank pelat merah.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar