Haluannews Ekonomi – Kisah Cornelis Chastelein, seorang konglomerat Jakarta di era 1700-an, menjadi bukti bahwa kekayaan tak selalu identik dengan keserakahan. Berbeda dengan para taipan modern yang gemar memamerkan kekayaan, Chastelein justru memilih berbagi rezeki dengan cara yang tak biasa: membagi-bagikan tanahnya secara gratis kepada masyarakat.

Related Post
Pria kelahiran 1658 ini mengawali kariernya sebagai pegawai VOC selama dua dekade. Dari posisi awal sebagai pengawas gudang, ia merangkak naik hingga menjadi saudagar utama dan anggota Dewan Kota Batavia. Gaji bulanannya yang terbilang besar pada masanya, sekitar 200-350 gulden, tak ia habiskan untuk kesenangan pribadi. Sebaliknya, ia menginvestasikannya dengan cerdik dalam pembelian lahan di sekitar Batavia.

Pada 1693, ia memulai portofolio tanahnya di kawasan Weltevreden (kini Gambir) yang digunakan untuk perkebunan tebu. Setelah pensiun dari VOC dua tahun kemudian, ia membeli lahan di Serengseng (Lenteng Agung), membangun rumah besar, dan membawa sekitar 150 budak—mayoritas dari luar Jawa—bersama keluarganya. Uniknya, Chastelein memperlakukan budak-budaknya dengan hormat, mencerminkan nilai kemanusiaan yang tinggi. Ia membebaskan mereka dan menugaskan mereka mengelola perkebunan tebu, lada, pala, dan kopi di Mampang dan Depok.
Ketajaman bisnisnya menghasilkan kekayaan melimpah, menjadikan Chastelein salah satu orang terkaya di Batavia. Namun, ia tak meninggalkan warisan berupa harta yang diperebutkan. Tiga bulan sebelum kematiannya pada 28 Juni 1714, ia membuat surat wasiat yang mengejutkan. Seluruh hartanya, termasuk tanah-tanah luas, dihibahkan secara cuma-cuma kepada mantan budaknya. Tujuannya mulia: agar mereka bisa hidup mandiri dan sejahtera, sekaligus sebagai sarana penyebaran agama Kristen. Keputusan ini melahirkan cikal bakal Kota Depok dan istilah "Belanda Depok". Kisah Chastelein menjadi inspirasi bagaimana kekayaan dapat digunakan untuk menciptakan dampak sosial yang positif dan berkelanjutan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar