Haluannews Ekonomi – Grup Salim, dinasti bisnis yang dibangun Sudono Salim, terus memperluas pengaruhnya di Indonesia. Anthoni Salim dan keluarganya menguasai sejumlah perusahaan besar, mulai dari barang konsumsi, perbankan, perkebunan, hingga pertambangan. Menurut Forbes, kekayaan mereka mencapai US$7,5 miliar (Rp 118,87 triliun), menempatkan mereka di posisi kelima orang terkaya Indonesia tahun 2022.

Related Post
Perjalanan Grup Salim tak selalu mulus. Mereka kehilangan mayoritas saham Bank Central Asia (BBCA) saat krisis moneter 1998, sebuah peristiwa yang membuat likuiditas BBCA menipis dan memaksa pemerintah untuk melakukan intervensi melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Kehilangan ini justru menjadi momentum bagi Grup Salim untuk melakukan diversifikasi bisnis yang agresif.

Saat ini, Grup Salim dikenal luas berkat Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan anak usahanya, Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). ICBP, dengan merek-merek ikonik seperti Indomie, Indomilk, dan Chitato, mendominasi pasar makanan dan minuman Indonesia. INDF sendiri, sebagai induk perusahaan, juga menguasai berbagai segmen, mulai dari bahan makanan hingga minyak goreng. Keluarga Salim memegang lebih dari 40% saham First Pacific Co, perusahaan investasi yang terdaftar di Bursa Hong Kong dan memiliki 50,07% saham INDF.
Namun, jangkauan bisnis Salim Grup jauh melampaui Indofood. Mereka memiliki saham di Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) (produsen Sari Roti), Fast Food Indonesia (FAST) (KFC Indonesia), dan Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) (minyak goreng). Di sektor perkebunan sawit, ada PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Grup Salim juga merambah sektor otomotif lewat Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) dan Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS), konstruksi melalui Nusantara Infrastructure Tbk (META), dan energi lewat Medco Energi International Tbk (MEDC).
Kehadiran Grup Salim juga terasa di sektor teknologi dan media lewat Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), serta di sektor keuangan melalui Indolife Pensiontama, yang memiliki saham di Bank Mega Tbk (MEGA) dan Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI). Setelah kehilangan BBCA, Grup Salim kini kembali mengendalikan sebuah bank, yaitu Bank Ina Perdana Tbk (BINA).
Ekspansi Salim Grup bahkan merambah sektor pertambangan. Mereka memiliki saham di Bumi Resources Tbk (BUMI) dan Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melalui Mach Energy (Hongkong) Limited. Lebih lanjut, Grup Salim juga menjadi pemegang saham utama di Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), produsen emas dan tembaga, melalui beberapa entitas, termasuk Emirates Tarian Global Ventures SPV dan PT Sumber Gemilang Persada.
Total nilai kapitalisasi pasar dari semua emiten yang berafiliasi dengan Grup Salim, baik langsung maupun tidak langsung, mencapai hampir Rp 1.100,53 triliun, sekitar 10,45% dari total market cap IHSG. Dengan portofolio yang begitu luas, Grup Salim menjadi pemain kunci dan penggerak utama di pasar modal Indonesia.










Tinggalkan komentar