Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang kontras pada Senin (9/3/2026) pagi. Di tengah koreksi tajam yang menimpa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), saham-saham emiten di sektor energi, khususnya minyak dan gas (migas), justru tampil perkasa dan melaju kencang di zona hijau. Kinerja impresif ini didorong oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang mencapai level tertinggi, dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik global.

Related Post
Pada pukul 09.20 WIB, mayoritas saham migas mencatatkan penguatan signifikan. Energi Mega Persada (ENRG) menjadi lokomotif penguatan dengan kenaikan 3,6% ke level Rp 1.890. Diikuti oleh Elnusa (ELSA) yang melesat 3,5% ke Rp 880, serta emiten jasa pengeboran darat dan lepas pantai, Apexindo Pratama Duta (APEX), yang menguat 3,4% ke Rp 240. Tak ketinggalan, Medco Energi (MEDC), emiten minyak milik keluarga Panigoro, juga menjadi daya tarik kuat bagi investor. MEDC mencatat total transaksi fantastis sebesar Rp 687,3 miliar, menjadikannya emiten ketiga dengan transaksi terbesar pagi itu, dengan kenaikan 2,8% ke Rp 1.815. Sementara itu, IHSG terjun bebas lebih dari 4%, bahkan sempat menyentuh pelemahan hingga 5%.

Lonjakan harga saham emiten migas ini merupakan respons langsung terhadap meroketnya harga minyak dunia. Hingga pukul 09.20 WIB, harga Brent tercatat di US$113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$113,25 per barel. Kenaikan ini memperpanjang reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Analisis Haluannews.id menunjukkan percepatan harga yang luar biasa dalam dua pekan terakhir. Brent, yang masih berada di US$70,85 per barel pada 25 Februari, melesat hingga menembus US$113,68. Pola serupa juga terjadi pada WTI, dari US$65,42 pada 25 Februari menjadi US$113,25 hari ini. Reli ini menjadi yang terbesar sejak 1983 untuk minyak mentah Amerika Serikat, melonjak sekitar 35% dalam satu minggu.
Pemicu utama di balik lonjakan harga ini adalah ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran telah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global. Fokus utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi koridor bagi sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Ancaman terhadap keamanan jalur ini secara otomatis memicu spekulasi kenaikan harga dan ketidakpastian pasar.
Dampak ketegangan ini langsung terasa pada pasokan. Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di OPEC, telah mengumumkan pemangkasan produksi dan output kilang sebagai langkah antisipasi setelah Iran mengancam keamanan kapal yang melintas di Selat Hormuz. Gangguan pasokan juga dilaporkan dari Irak, di mana tiga pejabat industri mengungkapkan kepada Reuters bahwa produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan negara itu anjlok sekitar 70%, dari sekitar 4,3 juta barel per hari menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) melalui perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menyatakan tengah mengelola produksi minyak lepas pantai dengan hati-hati. Meskipun operasi produksi darat masih berjalan normal, namun kapasitas penyimpanan mulai menjadi perhatian akibat gangguan distribusi.
Secara teknikal, analis pasar memprediksi reli minyak masih berpotensi berlanjut. Analisis Reuters mengindikasikan harga Brent bisa bergerak menuju kisaran US$120 hingga US$128 per barel, sementara WTI berpotensi mendekati puncak 2022 di sekitar US$130,50 per barel, jika krisis geopolitik saat ini terus memburuk. Namun, pemerintah Amerika Serikat tetap optimistis. Menteri Energi AS Chris Wright meyakini lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz akan kembali normal dalam beberapa minggu ke depan setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal berhasil dilemahkan. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi pasar energi global saat ini masih jauh dari stabil dan penuh tantangan.
Kompleksitas situasi geopolitik dan dampaknya terhadap pasar energi global menjadi penentu utama pergerakan saham migas di tengah volatilitas IHSG, menawarkan peluang sekaligus risiko bagi para investor.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar