Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia baru-baru ini diwarnai gejolak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penghentian perdagangan (trading halt) dua hari berturut-turut pada akhir bulan lalu, dipicu oleh pengumuman MSCI yang menyebabkan indeks anjlok lebih dari 8%. Merespons kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa tekanan yang terjadi bersifat sementara, didasari oleh fundamental ekonomi nasional yang kokoh. Namun, ia juga melontarkan peringatan keras, mendesak otoritas bursa untuk segera membersihkan pasar dari praktik saham-saham gorengan yang merusak.

Related Post
"Ini jelas guncangan temporer, karena fundamental kita tidak bermasalah," ujar Purbaya, seperti dikutip Haluannews.id pada Sabtu (21/2/2026). Ia menambahkan, "Jika yang jatuh adalah saham-saham spekulatif, sudah saya ingatkan sejak dulu untuk membersihkan bursa dari saham-saham semacam itu. Namun, saham-saham berkapitalisasi besar atau bluechip, kenaikannya belum terlalu signifikan."

Praktik mengerek harga saham tanpa didukung fundamental bisnis yang kuat, atau yang dikenal sebagai ‘saham gorengan’, bukanlah fenomena baru. Sejarah mencatat, dampak dari manipulasi pasar semacam ini telah berulang kali menyebabkan kerugian besar, bahkan kebangkrutan massal bagi ribuan investor.
Ribuan Orang Bangkrut dalam Semalam, Isaac Newton Jadi Korban
Jauh sebelum istilah ‘pom-pom saham’ atau ‘pump and dump’ populer, dunia pernah menyaksikan skandal serupa yang mengguncang perekonomian lebih dari tiga abad silam. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1720 di Inggris, melibatkan sebuah entitas bernama South Sea Company, yang ironisnya, mendapat dukungan penuh dari pemerintah.
Kala itu, Inggris tengah berjuang dengan kondisi keuangan yang rapuh akibat perang panjang. Untuk mengatasi tumpukan utang negara, pemerintah mendirikan South Sea Company, memberikan hak istimewa untuk mengambil alih dan mengelola utang tersebut. Sebagai imbalannya, perusahaan dijanjikan monopoli perdagangan dengan wilayah Amerika Selatan yang kala itu dianggap memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah.
Janji manis ini menciptakan euforia publik, mendorong keyakinan bahwa perusahaan akan meraup keuntungan besar. Kepercayaan ini semakin diperkuat oleh legitimasi dari pemerintah, menarik berbagai kalangan mulai dari rakyat biasa, anggota parlemen, bangsawan, hingga Raja George I untuk berinvestasi. Namun, manajemen perusahaan sengaja tidak mengungkapkan fakta krusial: wilayah Amerika Selatan berada di bawah kekuasaan Spanyol, bukan Inggris, sehingga ruang lingkup bisnis mereka sangat terbatas.
Dengan propaganda agresif, harga saham yang semula sekitar 100 pound sterling melonjak drastis hingga menembus lebih dari 1.000 pound dalam waktu singkat, seperti dicatat oleh Britannica. Kenaikan ini tidak didasari oleh kinerja atau laba perusahaan, melainkan semata-mata oleh spekulasi dan keyakinan bahwa akan selalu ada pembeli berikutnya – cikal bakal praktik ‘pom-pom saham’ modern.
Di balik layar, para petinggi South Sea Company justru secara diam-diam mulai menjual saham mereka, menyadari rapuhnya fondasi bisnis perusahaan. Ketika keraguan mulai muncul dan investor mempertanyakan sumber keuntungan riil, kepercayaan pasar runtuh. Kepanikan melanda, harga saham anjlok bebas, dan pasar ambruk dalam sekejap.
Dampak kejatuhan ini sangat dahsyat. Ribuan orang kehilangan seluruh tabungan hidup mereka, banyak bangsawan dan pengusaha jatuh miskin dalam semalam. Salah satu korban terkenal adalah ilmuwan besar Isaac Newton. Setelah sempat meraih keuntungan, ia kembali masuk pasar pada harga puncak dan menderita kerugian besar. Dari pengalaman pahit itu, Newton pernah berujar bahwa ia bisa menghitung pergerakan benda langit, namun tidak dengan kegilaan manusia.
Penyelidikan pemerintah kemudian mengungkap skandal besar yang melibatkan suap, konflik kepentingan, dan manipulasi pasar di kalangan elite politik. Meskipun sejumlah pejabat dihukum, kepercayaan publik terhadap negara dan pasar keuangan membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Peristiwa South Sea Bubble ini kemudian diakui sebagai salah satu praktik penggorengan saham pertama dalam sejarah dunia. Ironisnya, pola manipulasi serupa terus berulang dalam berbagai bentuk hingga saat ini, menunjukkan bahwa pelajaran dari masa lalu seringkali terabaikan. Peringatan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi relevan, mengingatkan kembali pentingnya integritas pasar dan perlindungan investor dari praktik-praktik spekulatif yang merugikan. Membersihkan bursa dari ‘saham gorengan’ bukan hanya tentang menjaga stabilitas indeks, tetapi juga membangun kepercayaan jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar