Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada perdagangan Jumat (27/2/2026), menandai kelanjutan tekanan jual yang masif di pasar modal domestik. Meskipun sempat merosot tajam hingga 1,47% di awal sesi, IHSG berhasil memangkas sebagian besar koreksinya. Namun, pada penutupan sesi pertama, indeks tetap melemah 0,31% atau kehilangan 25,93 poin, parkir di level 8.209,33.

Related Post
Aktivitas transaksi di bursa menunjukkan volume yang cukup tinggi, dengan nilai mencapai Rp11,26 triliun. Sebanyak 26,49 miliar saham berpindah tangan melalui 1,51 juta kali transaksi. Namun, sentimen negatif terlihat jelas dari komposisi pergerakan saham: 420 emiten ditutup melemah, berbanding jauh dengan hanya 239 saham yang menguat, sementara 156 lainnya stagnan. Data ini secara gamblang mengindikasikan dominasi aksi jual di pasar.

Berdasarkan analisis Haluannews.id, pelemahan IHSG pada hari ini tidak terlepas dari tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar atau ‘big caps’ yang memiliki bobot signifikan dalam perhitungan indeks.
Sejumlah emiten raksasa dari sektor energi dan konglomerasi, seperti Barito Renewables Energy (BREN), Chandra Asri Pacific (TPIA), dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA), menjadi penekan utama kinerja indeks. Tidak hanya itu, saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo, seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI), turut berkontribusi dalam menyeret IHSG ke zona merah, mengingat bobotnya yang besar dalam struktur indeks.
Proyeksi pergerakan pasar untuk perdagangan Jumat ini mengindikasikan potensi pergerakan yang cenderung sideways namun dengan kecenderungan melemah. Ruang koreksi semakin terbuka lebar menyusul aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan investor pada perdagangan Kamis sebelumnya. Secara teknikal, pelemahan IHSG kemarin juga memperkuat sinyal koreksi lanjutan. Indikasi ini diperkuat dengan terbentuknya pola Bearish Rising Wedge, sebuah formasi grafik yang menunjukkan kenaikan harga dalam rentang yang semakin menyempit. Pola ini sering diinterpretasikan sebagai tanda bahwa momentum penguatan mulai memudar dan berisiko tinggi untuk berbalik arah.
Pola Bearish Rising Wedge ini terbentuk setelah IHSG mengalami koreksi signifikan pada akhir Januari, diikuti oleh upaya pemulihan yang perlahan namun pasti. Namun, upaya indeks untuk menembus level psikologis 8.400 berulang kali menemui kegagalan. Kegagalan tersebut kemudian diikuti oleh pembentukan wedge yang secara teoretis seringkali berujung pada penembusan ke bawah, memicu koreksi yang lebih dalam. Apabila skenario Bearish Rising Wedge ini terkonfirmasi, IHSG berpotensi menguji level support krusial di kisaran 7.900 hingga 7.800, yang berarti ada potensi penurunan sekitar 4% dari level saat ini.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar