Haluannews Ekonomi – Jakarta – Awal tahun 2026 menunjukkan sinyal yang kurang menggembirakan bagi perekonomian Indonesia. Pasar modal domestik pada Selasa (24/02) mencatat pelemahan signifikan, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah sama-sama tertekan. Kondisi ini semakin diperkeruh oleh data awal defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk Januari 2026 yang mencapai puluhan triliun Rupiah.

Related Post
Pada sesi perdagangan Selasa (24/02/2026) hingga pukul 10:03 WIB, IHSG terpantau bergerak melemah 0,34%, parkir di level 8.368. Bersamaan dengan itu, mata uang Garuda juga tak luput dari tekanan, dengan Rupiah terdepresiasi hingga menyentuh angka Rp 16.820 per Dolar Amerika Serikat. Pergerakan ini mengindikasikan adanya sentimen negatif yang kuat di kalangan investor, memicu aksi jual di pasar saham dan permintaan terhadap aset yang lebih aman.

Pergerakan pasar yang lesu ini terjadi di tengah bayang-bayang defisit APBN yang cukup substansial di awal tahun fiskal. Data menunjukkan, defisit APBN per Januari 2026 tercatat sebesar Rp 54,6 triliun. Angka ini menjadi sorotan para analis ekonomi mengingat posisi awal tahun yang seharusnya menjadi momentum penguatan fiskal. Defisit di awal tahun bisa menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan pemerintah dalam mengelola keuangan negara dan potensi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.
Berbagai sentimen global dan domestik diyakini menjadi pemicu utama gejolak di pasar modal Tanah Air. Dari sisi global, kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dunia, inflasi yang persisten di negara-negara maju, serta potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral global masih menjadi momok bagi aliran modal ke pasar berkembang seperti Indonesia. Di ranah domestik, meskipun belum ada rincian lebih lanjut, data defisit APBN yang muncul di awal tahun bisa menimbulkan spekulasi mengenai prospek belanja pemerintah dan stabilitas fiskal ke depan. Investor cenderung bersikap hati-hati menanti kejelasan arah kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah.
Situasi ini menuntut kewaspadaan dari para pelaku pasar dan pembuat kebijakan. Analisis mendalam mengenai faktor-faktor pendorong pelemahan ini, seperti yang diulas oleh Shafinaz Nachiar dalam program Sustainable Health di Haluannews.id pada Selasa (24/02/2026), menjadi krusial untuk memahami dinamika pasar dan merumuskan strategi mitigasi yang tepat guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar