Panas Membara! Ultimatum AS ke Iran Bikin Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi!

Panas Membara! Ultimatum AS ke Iran Bikin Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi!

Haluannews Ekonomi – Harga minyak mentah global kembali menunjukkan taringnya, melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan Jumat pagi (20/2/2026), mengukuhkan posisinya di level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kontrak berjangka Brent (LCOc1) tercatat US$ 71,79 per barel pada pukul 09.50 WIB, sedikit menguat dari penutupan sebelumnya di US$ 71,66. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) (CLc1) juga melonjak ke US$ 66,78 per barel, dari US$ 66,43, berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id. Kenaikan ini menandai akumulasi premi risiko baru di pasar energi global.

COLLABMEDIANET

Dalam sepekan terakhir, pasar minyak telah menyaksikan reli yang cukup konsisten. Brent bergerak dari US$ 67,42 pada 17 Februari menjadi US$ 71,79 hari ini, sementara WTI turut menanjak dari US$ 62,33 ke US$ 66,78 dalam periode yang sama. Dinamika ini didorong oleh serangkaian faktor, namun sentimen utama datang dari gejolak geopolitik.

Panas Membara! Ultimatum AS ke Iran Bikin Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pemicu utama gejolak harga ini tak lain adalah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan memberikan batas waktu 10-15 hari bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Pernyataan keras dari Washington ini sontak memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar akan potensi gangguan pasokan, terutama jika konflik meluas ke kawasan Teluk yang strategis.

Iran, dengan posisinya di utara Selat Hormuz, memegang kunci jalur vital yang menjadi urat nadi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Setiap eskalasi di wilayah ini secara langsung diterjemahkan oleh pasar sebagai ancaman terhadap kelancaran distribusi energi global. Kekhawatiran kian menebal dengan laporan rencana latihan militer laut bersama antara Iran dan Rusia, yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan maritim.

Selain faktor geopolitik, data fundamental juga turut memberikan dorongan tambahan. Persediaan minyak mentah di Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan signifikan, seiring dengan peningkatan utilisasi kilang dan volume ekspor. Di sisi lain, ekspor minyak Arab Saudi pada Desember tercatat menyusut hingga sekitar 6,99 juta barel per hari, mencapai level terendah sejak September. Kombinasi kedua faktor ini mengindikasikan pasokan global yang lebih ketat dibandingkan awal tahun.

Meskipun perlambatan inflasi Jepang ke 2% pada Januari membuka ruang bagi kebijakan moneter yang tetap longgar – yang biasanya menopang permintaan energi – namun saat ini, dinamika geopolitik lah yang mendominasi pergerakan harga minyak. Dengan harga yang telah mencapai puncak enam bulan, pasar kini menanti perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran. Apabila tenggat waktu berakhir tanpa kesepakatan, volatilitas pasar berpotensi meningkat tajam, dan premi risiko diperkirakan akan kembali bertambah, menempatkan ekonomi global dalam posisi siaga.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar