Haluannews Ekonomi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan bahwa sektor perdagangan aset kripto telah memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan pajak negara, mencapai Rp796,73 miliar sepanjang tahun 2025. Data dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) lebih lanjut mengungkapkan bahwa akumulasi penerimaan pajak dari aset digital ini, terhitung sejak tahun 2022 hingga Februari 2026, telah menembus angka Rp1,96 triliun. Angka-angka ini menggarisbawahi peran aset kripto yang semakin strategis dalam lanskap ekonomi Indonesia.

Related Post
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menjelaskan bahwa capaian fiskal ini merupakan indikator nyata bahwa aktivitas perdagangan aset kripto telah terintegrasi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia. Fenomena ini menunjukkan pergeseran paradigma investasi dan transaksi di era digital.

Lebih lanjut, Adi Budiarso menyoroti posisi Indonesia yang menduduki peringkat ketujuh secara global dalam Global Crypto Adoption Index 2025. Indeks ini, menurutnya, tidak hanya mengukur besaran nilai transaksi, melainkan juga mencerminkan tingkat komposit dan kedalaman adopsi aset kripto di kalangan masyarakat. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain kunci dalam ekosistem kripto dunia.
Melihat dinamika tersebut, Adi Budiarso menekankan urgensi penguatan tata kelola serta perlindungan konsumen dalam industri aset kripto. "Oleh karena itu, penguatan tata kelola serta perlindungan konsumen menjadi semakin penting untuk kita pastikan keberlanjutan ekosistem ini," ujar Adi dalam pembukaan Bulan Literasi Kripto yang diselenggarakan di The Dome, Jakarta Selatan, pada Selasa (7/4/2026), sebagaimana dilansir oleh Haluannews.id.
Meski menunjukkan tren adopsi yang meningkat, nilai transaksi kripto di Indonesia memperlihatkan fluktuasi yang dinamis. Adi memaparkan bahwa pada tahun 2025, nilai transaksi tercatat sebesar Rp482,23 triliun, mengalami penurunan 25,9% dibandingkan tahun 2024. Namun, angka ini sejatinya masih menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 57,4% jika dibandingkan dengan tahun 2022 yang hanya mencapai Rp306,40 triliun, bahkan melonjak lebih dari 223% dari periode awal pengamatan yang lebih rendah.
Menanggapi kondisi pasar yang fluktuatif, Adi Budiarso mengajak para pelaku pasar untuk kembali fokus pada fundamental. "Ini menarik, karena pada saat kita memandang kondisi hari ini, penurunan ini, ini adalah langkah yang paling penting kita lakukan bersama dan kita mulai melihat kembali pada fundamental. Dan kita coba lihat potensi depan. Apakah memang kita bisa menaikkan kedua potensi lonjakan yang tinggi kemudian hari ini," pungkasnya, mengisyaratkan optimisme terhadap potensi pertumbuhan di masa mendatang.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar