Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang cukup tangguh pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026), berhasil memangkas koreksi tajam yang sempat mencapai hampir 2% di awal sesi. Meski akhirnya ditutup tipis di zona merah, upaya rebound ini patut disorot di tengah gejolak global yang masih membayangi.

Related Post
Setelah sempat terperosok nyaris 2% di sesi pembukaan, IHSG mengakhiri perdagangan dengan penurunan tipis 0,05% atau 3,25 poin, bertengger di level 7.093,81. Data transaksi Haluannews.id mencatat nilai perdagangan mencapai Rp 9,89 triliun, melibatkan 15,89 miliar saham dalam 1,19 juta kali transaksi, dengan 467 saham melemah, 258 menguat, dan 233 stagnan. Performa IHSG ini terbilang impresif dibandingkan bursa regional Asia yang mayoritas ambruk, seperti Nikkei Jepang (-2,79%), Kospi Korea Selatan (-2,97%), dan Hang Seng Hong Kong (-0,81%).

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penekan utama, membebani IHSG lebih dari 20 poin sepanjang hari. Namun, sejumlah saham konglomerat tampil sebagai penyelamat. Di antaranya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang melonjak 6,62% dan menyumbang 16,28 poin indeks. Emiten milik Toto Sugiri turut berkontribusi 9,42 poin, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) milik Bakrie menyumbang 7,47 poin.
Namun, analis Haluannews.id mengingatkan bahwa ruang gerak IHSG ke depan masih sangat terbatas. Minimnya katalis positif global yang kuat menjadi penghalang utama. Pasar global menanti sinyal yang jelas, seperti gencatan senjata di Timur Tengah, pembukaan kembali jalur energi vital seperti Selat Hormuz, dan stabilisasi harga minyak kembali di bawah US$80 per barel.
Eskalasi konflik di Timur Tengah kini memasuki fase yang lebih rumit dengan ancaman ‘double chokepoint’. Jika sebelumnya fokus pasar hanya pada Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia, kini perhatian bergeser ke Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi di Yaman terlibat. Jalur ini merupakan penghubung utama Asia-Eropa melalui Terusan Suez, mencakup 6-12% arus perdagangan global.
Apabila kedua jalur strategis ini terganggu secara bersamaan, sekitar 25-30% pasokan minyak global berpotensi terdampak. Skenario ini akan memicu risiko inflasi global yang lebih tinggi dan meningkatkan probabilitas resesi, membuat harga minyak bertahan di level tinggi untuk jangka waktu lebih lama (higher for longer).
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi tekanan tambahan pada APBN. Harga minyak yang bertahan di atas US$80 per barel jauh melampaui ‘fiscal comfort zone’ yang idealnya di bawah US$70 per barel, sesuai asumsi APBN. Setiap kenaikan US$10 di atas asumsi dapat memperlebar defisit sekitar Rp51,8 triliun.
Jika harga minyak melonjak hingga US$100 per barel, tambahan subsidi energi diperkirakan mencapai Rp236 triliun. Meskipun ada potensi tambahan penerimaan sekitar Rp81 triliun, defisit APBN berpotensi membengkak hingga Rp155 triliun. Tekanan fiskal yang masif ini pada akhirnya akan turut membebani sentimen pasar saham domestik.
Di sisi lain, dinamika kebijakan moneter global juga menjadi perhatian, terutama peran Federal Reserve (The Fed) AS. Selain menjaga inflasi dan lapangan kerja, The Fed secara tidak langsung juga bertanggung jawab atas stabilitas sistem keuangan yang sangat bergantung pada likuiditas.
Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memanas. Militer Israel dilaporkan menyerang berbagai target di ibu kota Iran, Teheran, menyebabkan kerusakan infrastruktur energi, meskipun listrik dilaporkan telah pulih di sebagian besar wilayah. Universitas di Isfahan, Iran tengah, juga menjadi sasaran serangan untuk kedua kalinya. Di Saudi Arabia, sebuah jet militer Amerika Serikat mengalami kerusakan parah di pangkalan udara. Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran telah memperingatkan akan "menghujani dengan api" pasukan darat AS, menyusul pengumuman penempatan 3.500 tentara AS dan kapal perang USS Tripoli di kawasan tersebut.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar