Haluannews Ekonomi – Pasar saham Asia-Pasifik pada perdagangan Jumat (20/2/2026) menunjukkan performa yang beragam, mencerminkan kehati-hatian investor di tengah serangkaian sentimen global. Pelemahan Wall Street semalam akibat tekanan pada saham perusahaan kredit swasta dan meningkatnya ketegangan Iran-AS menjadi pemicu utama. Kekhawatiran geopolitik ini sontak memicu lonjakan harga minyak mentah global.

Related Post
Ancaman intervensi militer Amerika Serikat terhadap Iran kembali membayangi pasar setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan akan mengambil keputusan krusial dalam sepuluh hari ke depan. Pernyataan ini sontak meningkatkan prospek serangan, memicu kegelisahan di kalangan investor dan mendorong harga komoditas strategis. Respons pasar terhadap potensi eskalasi konflik ini sangat cepat. Harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak signifikan sebesar 1,9% menjadi US$66,57 per barel, sementara patokan global Brent Crude tak kalah agresif, naik 1,86% dan ditutup pada level US$71,66.

Di kawasan Asia, para pelaku pasar mencermati data inflasi Jepang yang baru dirilis. Indeks Nikkei 225 Jepang terpantau melemah 1,12%, diikuti oleh Topix yang juga terkoreksi 1,18%. Data menunjukkan inflasi utama untuk Januari berada di bawah target 2% Bank Sentral Jepang (BoJ) untuk pertama kalinya dalam 45 bulan, mengindikasikan tantangan deflasi yang persisten. Saham Sumitomo Pharma, salah satu raksasa farmasi di Jepang, menunjukkan volatilitas ekstrem, sempat menguat hingga 6,81% sebelum anjlok lebih dari 11% di awal perdagangan.
Berbeda dengan Jepang, indeks Kospi Korea Selatan justru mampu melawan arus dengan kenaikan 1,02%, menunjukkan ketahanan di tengah sentimen negatif. Namun, indeks Kosdaq yang berfokus pada perusahaan berkapitalisasi kecil, justru terkoreksi 0,43%.
Sementara itu, perhatian juga tertuju pada keputusan suku bunga pinjaman utama (LPR) yang akan dirilis oleh Bank Sentral China (PBoC) hari ini. LPR satu tahun dan lima tahun saat ini masing-masing berada di angka 3% dan 3,5%. Namun, aktivitas perdagangan di pasar daratan China dan Hong Kong masih ditiadakan karena perayaan Tahun Baru Imlek. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 dibuka sedikit melemah di awal sesi perdagangan.
Sebagai kilas balik, pergerakan bursa AS semalam turut memberi tekanan pada sentimen global. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 0,54%, S&P 500 yang berbasis luas turun 0,28%, dan indeks Nasdaq Composite yang didominasi teknologi kehilangan 0,31%. Saham-saham emiten kredit swasta dan perangkat lunak dilaporkan menjadi sektor yang paling tertekan.
Secara keseluruhan, pasar global dihadapkan pada kombinasi risiko geopolitik dan data ekonomi yang beragam, menuntut kewaspadaan tinggi dari para investor.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar