Haluannews Ekonomi – Serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah hingga US$ 5 per barel. Hal ini disampaikan oleh sejumlah analis setelah serangan tersebut terjadi. Pasar merespon dengan cepat, mencerminkan peningkatan premi risiko geopolitik.

Related Post
Pada Jumat pekan lalu, harga minyak Brent ditutup di US$ 77,01 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di US$ 73,84. Namun, analis memperkirakan lonjakan harga signifikan dalam waktu dekat. Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad dan mantan pejabat OPEC, memprediksi kenaikan harga, bahkan tanpa adanya balasan langsung dari Iran. Menurutnya, pasar akan memasukkan premi risiko geopolitik yang lebih tinggi ke dalam perhitungan harga.

Sentimen serupa diungkapkan Ole Hansen dari Saxo Bank yang memperkirakan pembukaan perdagangan dengan kenaikan US$ 4 hingga US$ 5 per barel, dengan potensi aksi lepas posisi beli (long position) oleh beberapa investor. Kenaikan ini terjadi meskipun sebelumnya harga minyak sempat melemah setelah AS menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran.
Sejak konflik Israel-Iran dimulai pada 13 Juni, harga Brent telah meroket 11%, dan WTI sekitar 10%. Namun, sejauh ini, pasokan minyak masih stabil berkat kapasitas produksi cadangan anggota OPEC. Giovanni Staunovo dari UBS menilai risiko akan memudar jika tidak terjadi gangguan pasokan. Ia menambahkan bahwa arah pergerakan harga minyak bergantung pada apakah terjadi gangguan pasokan atau konflik mereda.
Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur pengiriman seperlima konsumsi minyak dunia, menambah kekhawatiran. Meskipun Iran menyatakan hal tersebut hanya akan dilakukan jika objek vitalnya terancam, potensi penutupan ini tetap menjadi faktor pengerek harga. Namun, analis dari ICIS menilai Iran tak mungkin menutup Selat Hormuz dalam jangka waktu lama, mengingat ketergantungan ekspor minyaknya ke China dan tekanan diplomatik dari dua ekonomi terbesar dunia.
Perlu dicatat bahwa Presiden AS mengklaim telah menghancurkan situs nuklir utama Iran bersama Israel. Iran, sebagai produsen minyak terbesar ketiga OPEC, telah berjanji untuk membalas. Situasi ini menimbulkan ketidakpastian yang tinggi di pasar minyak global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar