Mengejutkan! Kredit Investasi Melesat, Ekonomi RI Bangkit dari ‘Mampet’?

Mengejutkan! Kredit Investasi Melesat, Ekonomi RI Bangkit dari 'Mampet'?

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Kabar positif menyelimuti sektor perbankan nasional. Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa pertumbuhan kredit per Januari 2026 berhasil melonjak signifikan sebesar 9,96% secara tahunan (yoy). Angka ini tidak hanya menunjukkan akselerasi yang lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya, Desember 2025, tetapi juga memberikan sinyal kuat tentang prospek cerah perekonomian di awal tahun.

COLLABMEDIANET

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (19/2/2026), secara khusus menyoroti performa impresif segmen kredit investasi. "Berdasarkan kelompok pengguna, kredit investasi naik paling kencang, yakni 22,38% yoy," ungkap Perry. Performa ini jauh melampaui pertumbuhan kredit modal kerja dan kredit konsumsi yang masing-masing tumbuh 4,13% yoy dan 6,58% yoy. Dominasi kredit investasi ini mengindikasikan adanya peningkatan kepercayaan dan aktivitas ekspansi di kalangan dunia usaha, yang merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Mengejutkan! Kredit Investasi Melesat, Ekonomi RI Bangkit dari 'Mampet'?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dari sisi penawaran, Perry menambahkan, kapasitas pembiayaan bank dinilai sangat memadai. Hal ini didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 13,48%. "Minat penyaluran kredit bank terus membaik," tegasnya, mencerminkan optimisme perbankan dalam menyalurkan likuiditasnya ke sektor riil.

Namun, lonjakan kredit di awal 2026 ini hadir setelah periode yang penuh tantangan. Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sempat mengungkapkan kekhawatirannya mengenai "mampetnya" penyaluran dana perbankan ke sektor riil. Meskipun likuiditas di perbankan melimpah ruah, transmisi ke pertumbuhan kredit belum optimal. Dalam acara Haluannews.id Economic Outlook 2026 pada Selasa (10/2/2026), Destry menjelaskan bahwa sepanjang 2025, BI telah mengambil langkah proaktif dengan menurunkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 125 basis poin, mencapai level 4,75%, guna mendukung likuiditas. Kebijakan ini diperkuat dengan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) senilai Rp 338 triliun, serta upaya pemerintah meningkatkan uang primer (M0) sebesar Rp 200 triliun.

"Tapi memang transmisi di perbankan lambat. Lending rate kok belum turun, bank ada yang mampet," keluh Destry kala itu, menggambarkan lambatnya respons perbankan terhadap stimulus moneter. Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan kredit sepanjang 2025 yang hanya mencapai 9,69% secara tahunan, melambat dibandingkan capaian 2024 sebesar 10,93%.

Menanggapi fenomena "mampet" tersebut, pemerintah dan otoritas moneter tidak tinggal diam. Sebuah tim "debottlenecking" telah dibentuk sebagai bagian dari Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP). Tim ini bertugas khusus untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbagai hambatan berusaha di sektor bisnis yang menghambat penyaluran kredit. "Ini satu masukan tim debottlenecking di keuangan. Karena bank likuiditas punya," pungkas Destry, menekankan bahwa masalahnya bukan pada ketersediaan dana, melainkan pada kelancaran alirannya.

Lonjakan kredit investasi di Januari 2026 ini bisa jadi merupakan indikasi awal keberhasilan upaya-upaya tersebut, menandakan bahwa mesin perekonomian Indonesia mulai berputar lebih kencang, didorong oleh kepercayaan sektor usaha untuk berekspansi dan dukungan likuiditas yang memadai dari perbankan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar