Haluannews Ekonomi – Investor legendaris Warren Buffett, melalui konglomeratnya Berkshire Hathaway, kembali mengguncang pasar dengan keputusan investasi yang tak terduga. Setelah bertahun-tahun mengurangi eksposur di sektor media cetak, Berkshire kini mempertebal kepemilikannya di The New York Times Company (NYT), sebuah langkah yang memicu spekulasi di kalangan analis dan pelaku pasar.

Related Post
Berdasarkan laporan yang diterima Haluannews.id, Berkshire Hathaway tercatat mengakuisisi lebih dari lima juta lembar saham NYT pada kuartal IV tahun lalu. Investasi strategis ini menjadikan Berkshire memiliki sekitar 3,1% kepemilikan di raksasa media tersebut, dengan nilai fantastis mencapai US$395 juta, atau setara dengan Rp6,2 triliun jika dikonversi ke rupiah. Akuisisi ini menempatkan Berkshire sebagai pemegang saham institusional terbesar keenam, bersanding dengan nama-nama besar seperti Vanguard, BlackRock, T. Rowe Price, Darsana Capital Partners, dan AQR Capital Management.

Langkah berani ini dilakukan di tengah badai disrupsi yang masih melanda industri media global. Gelombang PHK massal, bahkan di entitas sekelas The Washington Post yang didukung Jeff Bezos, menjadi bukti nyata tekanan yang dihadapi bisnis berita tradisional. Namun, di tengah gejolak tersebut, saham The New York Times justru menunjukkan performa impresif. Tercatat, nilai saham NYT diperdagangkan di kisaran US$74,50, mencatatkan kenaikan 7,5% sejak awal tahun dan meroket 55% dalam kurun 12 bulan terakhir. Kenaikan ini jauh melampaui harga rata-rata akuisisi Berkshire di kuartal IV yang berada di kisaran US$62.
Kunci di balik optimisme Berkshire terhadap NYT tampaknya terletak pada transformasi digital perusahaan yang sangat sukses. Pada kuartal IV, pendapatan langganan digital NYT melonjak hampir 14% secara tahunan, diiringi kenaikan penjualan iklan digital yang mencapai hampir 25%. Pertumbuhan ini ditopang oleh diversifikasi produk digital inovatif, mulai dari gim populer, aplikasi memasak, podcast, ulasan teknologi Wirecutter, hingga akuisisi liputan olahraga The Athletic. Penawaran paket ‘All Access’ yang mengintegrasikan seluruh layanan ini juga menjadi daya tarik utama bagi pelanggan.
Meskipun belum dapat dipastikan apakah keputusan investasi ini murni dari tangan dingin Warren Buffett sendiri atau dari manajer investasinya, Ted Weschler – yang kini memegang portofolio lebih besar setelah kepergian Todd Combs – satu hal yang jelas: valuasi NYT terbilang premium. Dengan rasio perdagangan sekitar 19 kali estimasi EBITDA 12 bulan ke depan, saham NYT jauh di atas rata-rata industri. Sebagai perbandingan, kompetitor seperti USA Today, Lee Enterprises, dan News Corp (pemilik The Wall Street Journal) diperdagangkan pada kelipatan EBITDA di bawah 10 kali. Ini menunjukkan bahwa Berkshire melihat nilai jangka panjang yang substansial di luar metrik valuasi tradisional.
Investasi ini menjadi penanda kembalinya Berkshire ke arena bisnis surat kabar, setelah serangkaian divestasi signifikan di masa lalu. Berkshire pernah menjadi pemegang saham di Graham Holdings, mantan pemilik The Washington Post, sebelum menukarnya dengan stasiun TV pada 2014 pasca akuisisi oleh Jeff Bezos. Tak hanya itu, pada 2020, Berkshire juga melepas seluruh unit BH Media Group, yang mencakup Omaha World-Herald dan 29 surat kabar harian lainnya, kepada Lee Enterprises senilai US$140 juta. Pola divestasi ini membuat keputusan terbaru di NYT semakin menarik perhatian.
Menariknya, optimisme Berkshire Hathaway ini tampaknya melampaui konsensus analis Wall Street. Berdasarkan data FactSet, dari 12 analis yang meliput saham NYT, hanya enam yang merekomendasikan ‘beli’, lima ‘tahan’, dan satu ‘jual’. Target harga rata-rata mereka sebesar US$70,75 bahkan hampir 10% di bawah harga penutupan saham pada Jumat lalu, mengindikasikan pandangan yang lebih konservatif dibandingkan sang ‘Oracle of Omaha’.
Terlepas dari gejolak yang terus membayangi industri berita tradisional, momentum kuat bisnis digital The New York Times dapat menjadi kartu as yang menjadikan investasi Berkshire ini sebagai taruhan cerdas jangka panjang. Apakah ini akan menjadi ‘home run’ berikutnya bagi Warren Buffett? Hanya waktu yang akan menjawab.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar