Kejutan Pagi! Rupiah Perkasa, Dolar AS Tersungkur di Rp16.830

Kejutan Pagi! Rupiah Perkasa, Dolar AS Tersungkur di Rp16.830

Haluannews Ekonomi – Jakarta, Haluannews.id – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pagi ini, Selasa (10/3/2026), dengan performa yang mengejutkan, menunjukkan penguatan signifikan terhadap mata uang Paman Sam, dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, mata uang Garuda dibuka pada posisi Rp16.830 per dolar AS, mencatatkan apresiasi sebesar 0,62%.

COLLABMEDIANET

Penguatan ini menjadi angin segar setelah sehari sebelumnya, Senin (9/3/2026), rupiah sempat berada di bawah tekanan berat, bahkan nyaris menembus ambang psikologis Rp17.000 per dolar AS dengan menyentuh Rp16.990. Namun, di penutupan perdagangan, mata uang domestik berhasil memangkas sebagian kerugian, mengakhiri hari di Rp16.935 per dolar AS, meski masih mencatat depresiasi harian 0,21%.

Kejutan Pagi! Rupiah Perkasa, Dolar AS Tersungkur di Rp16.830
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Bersamaan dengan itu, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah 0,32% ke level 98,860 pada pukul 09.00 WIB. Pelemahan DXY ini menjadi salah satu pendorong utama apresiasi rupiah di awal pekan.

Koreksi DXY pagi ini terjadi setelah sebelumnya melonjak tajam pada Senin, dipicu kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Namun, sentimen pasar berbalik arah setelah Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah wawancara dengan media internasional, menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran telah "sangat tuntas". Pernyataan ini berhasil meredakan sebagian besar kekhawatiran investor akan gangguan pasokan energi global dan potensi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

Sebelumnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait konflik AS-Israel dengan Iran, sempat memicu gejolak di pasar keuangan global, mendorong investor untuk mencari perlindungan pada aset-aset aman seperti dolar AS dan memicu kenaikan harga minyak. Dengan meredanya ketegangan, pelaku pasar kini cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap dolar AS, membuka peluang bagi mata uang lain, termasuk rupiah, untuk menguat.

Di ranah domestik, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data penjualan eceran Indonesia untuk periode Januari 2026. Data ini krusial untuk mengukur vitalitas daya beli masyarakat di tengah bayang-bayang ketidakpastian global yang masih tinggi. Sebagai referensi, Bank Indonesia (BI) sebelumnya melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 3,5% secara tahunan (yoy) pada Desember 2025. Angka ini menandai delapan bulan berturut-turut ekspansi penjualan ritel, didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah yang menjaga konsumsi domestik.

Namun, laju pertumbuhan tersebut menunjukkan perlambatan signifikan dari 6,3% pada November 2025, menjadi yang terendah sejak Agustus 2025. Ini mengindikasikan bahwa meskipun konsumsi rumah tangga masih positif, momentumnya mulai melandai. Hasil data penjualan eceran yang kuat dapat memberikan sentimen positif bagi aset domestik, termasuk rupiah. Sebaliknya, jika data menunjukkan pelemahan, hal itu dapat memicu kekhawatiran akan perlambatan konsumsi di dalam negeri dan berpotensi menekan pergerakan rupiah ke depan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar