Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan global kembali dihadapkan pada ketidakpastian ekstrem menyusul laporan mengenai potensi serangan militer AS-Israel terhadap Iran. Sentimen negatif ini langsung memicu gelombang jual masif di bursa saham utama dunia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia, pada perdagangan Senin (02/03/2026).

Related Post
IHSG terpantau anjlok hingga 2% pada penutupan perdagangan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global yang terancam oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Tak hanya pasar saham, nilai tukar Rupiah pun turut tertekan, merosot tajam hingga menyentuh level Rp 16.827 per Dolar AS, sebuah level yang mengkhawatirkan bagi stabilitas mata uang domestik dan berpotensi memicu inflasi impor.

Gejolak di Timur Tengah ini tak hanya berdampak pada pasar saham dan mata uang, tetapi juga mendorong harga minyak mentah global melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan harga komoditas energi ini berpotensi memperparah tekanan inflasi dan membebani neraca perdagangan negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi.
Para pelaku pasar dan analis kini menyoroti bagaimana pergerakan pasar modal Indonesia akan merespons ketegangan geopolitik yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah. Serliana Salsabila, analis dari Haluannews.id dalam program Profit, menyoroti pentingnya mencermati dinamika ini untuk memahami potensi dampaknya terhadap investasi dan perekonomian nasional. Ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik geopolitik ini diperkirakan akan terus membayangi pergerakan pasar dalam beberapa waktu ke depan, menuntut kewaspadaan ekstra dari para investor dan pembuat kebijakan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar