INDY Diguncang Moody’s! Proyek Emas Awak Mas Picu Peringkat Anjlok?

INDY Diguncang Moody's! Proyek Emas Awak Mas Picu Peringkat Anjlok?

Haluannews Ekonomi – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s mengguncang pasar dengan pengumuman penurunan peringkat kredit PT Indika Energy Tbk (INDY). Peringkat INDY kini dipangkas dari Ba3 menjadi B1, meskipun prospeknya direvisi menjadi stabil dari sebelumnya negatif. Keputusan ini turut menyeret peringkat obligasi senior berjaminan senilai US$455 juta yang jatuh tempo Mei 2029, yang juga turun ke B1 dari Ba3.

COLLABMEDIANET

Melansir laporan resmi Moody’s yang diterima Haluannews.id, langkah penyesuaian peringkat ini mencerminkan metrik kredit perseroan yang sudah berada di bawah tekanan dan diproyeksikan akan semakin tergerus. Pemicu utamanya adalah peningkatan alokasi belanja modal (capex) untuk proyek emas Awak Mas di tengah volatilitas harga batu bara termal yang cenderung lesu.

INDY Diguncang Moody's! Proyek Emas Awak Mas Picu Peringkat Anjlok?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Anthony Prayugo, analis Moody’s, menegaskan bahwa penurunan peringkat ini menggarisbawahi kapasitas terbatas Indika untuk menanggung beban utang tambahan pada level peringkat sebelumnya. "Meskipun harga emas yang tetap tinggi akan mendukung perolehan laba yang signifikan setelah operasi dimulai, saat ini perseroan memiliki ruang yang terbatas untuk menyerap tambahan utang pada level peringkat sebelumnya," jelas Prayugo, Jumat (13/2/2026).

Pembengkakan Biaya Proyek Awak Mas Jadi Sorotan

Moody’s memperkirakan anggaran belanja modal terbaru untuk proyek emas Awak Mas akan melonjak sekitar US$100 juta hingga US$150 juta, sehingga total biaya proyek membengkak hingga sekitar US$567 juta. Peningkatan alokasi ini sebagian besar akan ditopang oleh injeksi utang baru, yang berpotensi mengerek naik total utang Indika menjadi sekitar US$1,4 miliar pada 2026 dari estimasi US$1,1 miliar pada 2025.

Untuk tahun 2026, belanja modal perseroan diperkirakan mencapai sekitar US$380 juta, dengan porsi sekitar US$300 juta khusus untuk proyek Awak Mas. Indika menjelaskan bahwa kendala pembebasan lahan sepanjang 2025 menjadi salah satu faktor yang mendorong percepatan jadwal konstruksi demi memastikan target penyelesaian akhir 2026. Selain itu, peningkatan fasilitas kamp pekerja, pembangunan akses jalan segala cuaca, serta permintaan pembayaran yang lebih tinggi dari kontraktor akibat kenaikan harga peralatan dan pengadaan di tengah penguatan harga emas, turut mengerek naik total biaya proyek.

Hingga Desember 2025, progres proyek Awak Mas telah mencapai sekitar 50% dan ditargetkan memulai uji coba produksi pada akhir 2026. Dengan asumsi biaya all-in sustaining sekitar US$1.150 per ounce dan harga emas US$3.000 per ounce, proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan EBITDA sekitar US$130 juta saat produksi tahunan mencapai 100.000 ounce.

Kinerja Batubara Lesu, Leverage Terkatrol

Namun, sebelum Awak Mas memberikan kontribusi laba yang signifikan, kualitas kredit Indika masih akan disokong oleh kinerja anak usaha 91% miliknya, PT Kideco Jaya Agung. Kideco diprediksi tetap menghadapi tekanan kinerja di tengah harga batu bara termal yang masih lemah, meskipun perseroan memiliki fleksibilitas untuk mengatur strip ratio guna meredam dampak pelemahan harga.

Dengan asumsi harga jual rata-rata batu bara termal sekitar US$51 per metrik ton pada 2026, EBITDA Indika diproyeksikan relatif stagnan dibandingkan 2025, di kisaran US$200 juta. Akibatnya, rasio leverage (utang terhadap EBITDA) versi penyesuaian Moody’s diperkirakan melonjak dari estimasi 6,0 kali pada Desember 2025 menjadi sekitar 7,0 kali pada Desember 2026. Setelah Awak Mas beroperasi penuh secara komersial pada awal 2027, kinerja laba memang diperkirakan membaik. Namun, besarnya kenaikan utang membuat leverage baru akan turun mendekati 4,0 kali pada suatu waktu di 2027.

Moody’s juga mencatat proyeksinya belum memasukkan potensi risiko kebijakan, termasuk kemungkinan perubahan regulasi pertambangan di Indonesia seperti pengenaan pungutan ekspor batu bara. Risiko tersebut dapat semakin menekan kinerja perseroan.

Likuiditas Memadai, Namun Covenant Jadi Tantangan

Dari sisi likuiditas, Indika dinilai akan mempertahankan posisi yang memadai dalam 12-18 bulan ke depan. Saldo kas, fasilitas kredit yang belum ditarik, serta arus kas operasi diproyeksikan cukup untuk memenuhi kebutuhan kas dalam periode tersebut.

Meski demikian, peningkatan belanja modal Awak Mas akan menipiskan margin kepatuhan terhadap covenant, khususnya terkait batas net debt/EBITDA yang tidak boleh melebihi 3,75 kali pada 2026 tanpa adanya kenaikan laba signifikan atau divestasi aset. Pemenuhan covenant dan perolehan waiver yang tepat waktu akan menjadi faktor krusial ke depan bagi Indika.

Outlook stabil mencerminkan ekspektasi bahwa risiko eksekusi proyek emas akan mereda, sehingga dapat memberikan kontribusi laba pada 2027 dan mendukung pemulihan indikator kredit. Peningkatan peringkat berpotensi terjadi jika rasio utang terhadap EBITDA turun di bawah 4,0 kali dan rasio EBIT terhadap beban bunga meningkat di atas 2,0 kali secara berkelanjutan.

Sebaliknya, tekanan penurunan peringkat dapat muncul apabila proyek emas kembali mengalami keterlambatan atau pembengkakan biaya, likuiditas internal tidak memadai, atau perseroan melakukan strategi investasi agresif maupun kebijakan distribusi dividen yang royal kepada pemegang saham. Indikator penurunan peringkat antara lain rasio utang terhadap EBITDA bertahan di atas 4,5 kali atau rasio EBIT terhadap bunga turun di bawah 1,5 kali setelah tambang emas mulai beroperasi. Indika Energy kini berada di persimpangan jalan, menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan kehati-hatian finansial.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar