IHSG Terkoreksi Tipis, Pasar Menanti Sinyal Kuat dari OJK dan Inflasi AS

IHSG Terkoreksi Tipis, Pasar Menanti Sinyal Kuat dari OJK dan Inflasi AS

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan pertama hari ini dengan koreksi tipis, merosot 0,04% atau setara 3,11 poin, dan bertengger di level 7.437,81. Dinamika pasar pada paruh pertama hari perdagangan ini menunjukkan aktivitas yang cukup ramai, di mana volume transaksi mencapai 18,32 miliar lembar saham yang diperdagangkan melalui 1,09 juta kali frekuensi, dengan total nilai transaksi sebesar Rp7,67 triliun.

COLLABMEDIANET

Mayoritas sektor di bursa saham Tanah Air terpantau bergerak menguat, dengan sektor konsumer non-primer, properti, dan energi memimpin kenaikan. Sebaliknya, sektor finansial, infrastruktur, dan barang baku menjadi penekan utama yang mencatatkan pelemahan paling dalam. Kontribusi negatif terbesar terhadap kinerja IHSG datang dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menyumbang -4,74 indeks poin. Selain BBCA, beberapa emiten lain yang turut membebani pergerakan indeks hari ini antara lain BREN, ASII, AMMN, dan BRMS.

IHSG Terkoreksi Tipis, Pasar Menanti Sinyal Kuat dari OJK dan Inflasi AS
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pergerakan pasar saham hari ini juga dipengaruhi oleh sejumlah sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada proses fit and proper test calon Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan dilaksanakan oleh Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Proses ini menjadi krusial menyusul rencana pengunduran diri Ketua, Wakil Ketua, dan anggota Dewan Komisioner OJK pada akhir Januari 2026. Komisi XI DPR dijadwalkan langsung menguji 10 nama calon yang diajukan Presiden pada hari Rabu (11/3/2026), setelah sebelumnya 20 kandidat berhasil lolos seleksi awal. Lima nama terpilih akan langsung ditentukan pada hari yang sama, untuk kemudian disahkan dalam Rapat Paripurna DPR pada esok harinya, Kamis (12/3/2026).

Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan menggelar Konferensi Pers APBN KiTa untuk memaparkan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Februari 2026. Konferensi pers ini sangat dinantikan, terutama di tengah eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Para pelaku pasar menanti apakah pemerintah akan mengumumkan kebijakan fiskal baru untuk mengantisipasi dampak perang, termasuk potensi penurunan penerimaan negara. Data APBN per Januari 2026 menunjukkan defisit sebesar 0,21% terhadap PDB atau setara Rp54,6 triliun. Belanja negara tercatat Rp227,3 triliun (5,9% dari pagu), sementara pendapatan mencapai Rp172,7 triliun. Perkembangan belanja dan penerimaan negara hingga dua bulan pertama tahun ini, khususnya pajak penghasilan, akan menjadi sorotan utama.

Di kancah global, pasar saham Asia-Pasifik menunjukkan resiliensi dengan mayoritas indeks kembali bergerak di zona hijau pada Rabu (11/3/2026). Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,35%, Nikkei 225 Jepang melonjak 1,36%, dan Topix bertambah 1,22%. Sementara itu, Kospi Korea Selatan menguat 2,52%, diikuti oleh indeks Kosdaq untuk perusahaan kecil yang naik 1,39%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong juga berada di posisi 25.936, mendekati penutupan terakhir di 25.959,9. Kondisi ini terjadi setelah pasar mencerna serangkaian rilis data makroekonomi dari kawasan Asia yang mengindikasikan penguatan fundamental sepanjang hari sebelumnya. Namun, eskalasi geopolitik di Timur Tengah terus memicu volatilitas harga energi global, menambah ketidakpastian. Fokus utama investor pada perdagangan hari ini juga tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan diumumkan malam nanti, yang diproyeksikan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar global selanjutnya.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar