Haluannews Ekonomi – Jakarta – Pasar modal domestik menutup pekan perdagangan Kamis (12/2) dengan sentimen negatif, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir 0,31% ke level 8.265,35. Pelemahan ini tak lepas dari derasnya arus keluar dana investor asing yang membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp2,03 triliun di pasar reguler dan mencapai Rp1,49 triliun di seluruh segmen pasar.

Related Post
Meskipun demikian, beberapa saham kapitalisasi besar seperti ENRG, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berupaya menahan laju penurunan, bertindak sebagai penopang utama. Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) justru menjadi pemberat yang menekan indeks. Secara sektoral, mayoritas atau tujuh dari sebelas sektor mengalami koreksi, dengan sektor kesehatan mencatat pelemahan paling dalam, sementara sektor industri dasar menjadi satu-satunya yang mampu menguat signifikan.

Sentimen negatif dari pasar global, khususnya pelemahan bursa saham Amerika Serikat yang ditunjukkan oleh koreksi indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq, turut memperkeruh suasana. Analis Haluannews.id memprediksi volatilitas di pasar domestik berpotensi berlanjut, terutama jika tekanan jual investor asing terus berlanjut. Arus keluar dana ini tidak hanya menekan IHSG secara langsung, tetapi juga berdampak pada kinerja Exchange Traded Fund (ETF) seperti EIDO dan MSCI Indonesia, mengindikasikan prospek jangka pendek yang penuh tantangan.
Namun, di tengah gejolak pasar, beberapa emiten justru menunjukkan kinerja impresif. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berhasil mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan sepanjang tahun 2025. Laba bersih perseroan meroket 126,83% secara tahunan, mencapai Rp7,64 triliun. Kinerja cemerlang ini ditopang oleh pertumbuhan penjualan bersih sebesar 4,31% menjadi Rp31,94 triliun. Kontributor utama datang dari segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh yang tumbuh 4,16% menjadi Rp23,35 triliun, serta segmen makanan dan minuman yang tidak kalah gesit dengan kenaikan 4,74% menjadi Rp8,58 triliun.
Lebih lanjut, keberhasilan UNVR juga didorong oleh strategi pengendalian biaya yang ketat, terlihat dari efisiensi pada beban pemasaran, penjualan, serta beban umum dan administrasi. Hasilnya, laba usaha perseroan melonjak 20,61% menjadi Rp4,59 triliun. Secara teknikal, pergerakan saham UNVR yang ditutup di atas rata-rata pergerakan jangka pendek mengindikasikan adanya potensi penguatan lebih lanjut.
Di sektor logistik, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) menunjukkan ambisi besar dengan menyiapkan belanja modal (capex) sekitar US$200 juta atau setara Rp3,36 triliun untuk tahun 2026. Dana jumbo ini akan dialokasikan untuk ekspansi kapasitas, meliputi penambahan armada kapal peti kemas, kapal chemical tanker, kapal LNG, serta pengembangan infrastruktur kepelabuhanan dan logistik, termasuk di terminal Patimban yang strategis. Prospek SMDR semakin cerah dengan adanya potensi dukungan kebijakan insentif bea masuk nol persen untuk komponen galangan kapal. Jika regulasi ini terealisasi, perseroan dapat menekan biaya proyek secara signifikan, yang pada gilirannya akan meningkatkan efisiensi dan daya saing dalam pengembangan usaha di masa mendatang.
Melihat dinamika pasar yang fluktuatif, Mega Capital Sekuritas memberikan beberapa rekomendasi saham pilihan untuk hari ini, meskipun detail spesifik tidak disebutkan dalam laporan awal.
Penting untuk diingat, seluruh analisis dan rekomendasi saham yang disajikan dalam artikel ini bersifat informatif semata dan tidak dapat diartikan sebagai ajakan untuk melakukan transaksi jual beli saham tertentu. Setiap keputusan investasi harus didasarkan pada pertimbangan matang, profil risiko, dan tujuan keuangan pribadi masing-masing investor. Berinvestasilah dengan bijak.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar