Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari ini, Selasa (3/3/2026), dengan pelemahan signifikan, anjlok 0,91% atau setara 73,18 poin, menutup sesi di level 7.943,65. Penurunan ini secara efektif membuat indeks meninggalkan level psikologis 8.000, memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Related Post
Pergerakan pasar hari ini diwarnai tekanan jual yang dominan. Tercatat sebanyak 397 saham mengalami koreksi, sementara 343 saham berhasil menguat, dan 218 saham stagnan. Nilai transaksi yang masif mencapai Rp 27,76 triliun, melibatkan 41,37 miliar saham dalam 2,78 juta kali transaksi. Akibatnya, kapitalisasi pasar turut tergerus menjadi Rp 14.194 triliun. Volatilitas pasar terpantau tinggi sepanjang hari, di mana IHSG sempat melonjak 1% di sesi pagi, sebelum memangkas penguatan menjadi 0,3% dan akhirnya berbalik arah ke zona merah pada penutupan.

Analisis sektor menunjukkan hampir seluruh sektor berada di wilayah negatif, kecuali sektor Energi yang mampu bertahan dengan penguatan tipis 0,24%. Sektor-sektor yang paling terpukul adalah Bahan Baku, yang anjlok 3,67%, diikuti oleh Utilitas dengan penurunan 2,33%, dan Konsumer Non-Primer yang terkoreksi 1,87%. Pelemahan pada sektor-sektor ini mengindikasikan sensitivitas pasar terhadap kondisi makroekonomi dan sentimen global.
Beberapa saham berkapitalisasi besar, khususnya di sektor pertambangan dan komoditas, menjadi pemberat utama indeks. Saham Amman Mineral (AMMN) memberikan kontribusi negatif terbesar, memangkas 14,41 poin dari indeks. Selain itu, saham-saham seperti Merdeka Copper Gold (MDKA), Bumi Resources Minerals (BRMS), Antam (ANTM), dan Merdeka Gold Resources (EMAS) juga masuk dalam daftar sepuluh saham dengan tekanan jual terkuat hari ini. Performa buruk emiten komoditas ini tak lepas dari gejolak harga di pasar global.
Pelemahan IHSG ini tak terlepas dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas. Laporan dari Haluannews.id menyebutkan bahwa operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus meluas tanpa tanda-tanda mereda. Israel melancarkan serangan ke Lebanon sebagai respons atas agresi Hizbullah, sementara Teheran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa operasi ini bisa berlangsung selama beberapa minggu. Situasi semakin rumit pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan terarah AS-Israel pada akhir pekan lalu, yang kini menimbulkan ketidakpastian mengenai kepemimpinan di Iran. Konflik ini telah menyeret kawasan Teluk ke dalam kancah perang, menelan puluhan korban jiwa di Iran, Israel, dan Lebanon. Dampak ekonominya pun sangat terasa, mulai dari terganggunya transportasi udara global hingga terhentinya pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Kondisi ini sontak memicu lonjakan harga minyak mentah global, menambah tekanan inflasi dan kekhawatiran terhadap rantai pasok global.
Investor kini mencermati perkembangan geopolitik ini dengan seksama, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan pasar keuangan global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar