IHSG Terjun Bebas: Pasar Global Bergejolak, Investor Asing Kabur!

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan hari ini, Selasa (31/3/2026), di zona merah yang dalam. Bursa domestik terpantau anjlok 0,61% atau kehilangan 43,45 poin, parkir di level 7.048,22. Penurunan ini menandai kegagalan upaya rebound di tengah sentimen pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global dan tekanan jual yang dominan.

COLLABMEDIANET

Dinamika perdagangan hari ini menunjukkan volatilitas yang signifikan. IHSG sempat mengawali sesi di teritori positif, namun tekanan jual yang kuat segera menyeretnya ke zona negatif. Meskipun sempat berupaya bangkit, indeks akhirnya harus mengakui dominasi koreksi hingga penutupan sesi pertama. Total nilai transaksi mencapai Rp 14,92 triliun, melibatkan 25,73 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,72 juta kali transaksi. Pergerakan saham menunjukkan dominasi tekanan jual, dengan 435 saham melemah, berbanding 270 saham yang menguat, sementara 253 saham stagnan.

IHSG Terjun Bebas: Pasar Global Bergejolak, Investor Asing Kabur!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut data dari Refinitiv yang dikutip Haluannews.id, sektor utilitas, energi, dan industri menjadi pendorong utama pelemahan IHSG. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti Barito Renewables Energy (BREN), Bayan Resources (BYAN), dan Energi Mega Persada (ENRG) tercatat memberikan kontribusi negatif paling besar terhadap kinerja indeks.

Di tengah gejolak pasar domestik, investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih (net sell) yang substansial. Tercatat, net sell asing mencapai Rp 878,5 miliar pada sesi pertama perdagangan. Data dari Indo Premier menunjukkan bahwa meskipun pembelian asing mencapai Rp 2,4 triliun, angka penjualan jauh lebih besar, yakni Rp 3,3 triliun. Aksi jual ini terutama menargetkan saham-saham perbankan dan sektor energi. Namun, beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Telkom Indonesia (TLKM) masih mencatatkan pembelian oleh investor asing.

Saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing meliputi Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan nilai jual Rp 139,6 miliar, disusul Bumi Resources Minerals (BRMS) Rp 99,0 miliar, dan Bumi Resources (BUMI) Rp 69,2 miliar. Penjualan asing juga terlihat signifikan pada saham Medco Energi Internasional (MEDC) Rp 51,3 miliar dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) Rp 42,8 miliar.

Sentimen negatif tidak hanya terasa di Jakarta. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik juga menunjukkan pelemahan. Indeks Kospi di Korea Selatan mencatat koreksi paling parah, anjlok 4,26%, diikuti oleh Nikkei di Jepang yang turun 1,58%. Hanya Hang Seng di Hong Kong yang berhasil mencatat kenaikan tipis 0,15%.

Kekhawatiran pasar global masih didominasi oleh ketegangan geopolitik. Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang kini memasuki pekan kelima, terus menjadi sumber kegelisahan utama. Terutama, gangguan di Selat Hormuz belum sepenuhnya teratasi. Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin kembali melontarkan peringatan kepada Iran untuk memastikan kelancaran jalur tersebut, di tengah ketidakpastian hasil pembicaraan diplomatik dan masih tingginya tensi militer di kawasan.

Bagi pasar keuangan, perkembangan konflik ini sangat krusial. Selat Hormuz merupakan arteri vital perdagangan energi dunia. Gangguan yang berkepanjangan di jalur strategis ini terus memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah dan gas, khususnya bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada arus energi dari Timur Tengah. Selama jalur ini belum benar-benar pulih, pasar akan terus memasukkan premi risiko yang tinggi ke dalam harga energi, menciptakan tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Dari ranah domestik, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memberikan pernyataan resmi pemerintah terkait isu penyesuaian atau kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sempat beredar di masyarakat. "Oleh karena itulah Pertamina menyatakan bahwa Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga baik untuk BBM subsidi maupun BBM non-subsidi," tegas Prasetyo.

Prasetyo berharap, pernyataan ini dapat memberikan informasi yang lebih jelas dan akurat kepada publik. "Dan kami berharap masyarakat tidak perlu panik, tidak perlu resah karena ketersediaan BBM kami jamin. Kita jamin. Dan harga tidak terjadi penyesuaian," pungkasnya, memberikan jaminan stabilitas harga energi di dalam negeri.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar