Haluannews Ekonomi – Bursa saham domestik pada perdagangan Selasa (24/2/2026) menunjukkan performa yang kurang menggembirakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi dengan koreksi tipis, turun 21,42 poin atau melemah 0,26%, dan berakhir di level 8.374,66. Penurunan ini terjadi setelah kemarin IHSG sempat melaju kencang, memicu pertanyaan di kalangan investor mengenai keberlanjutan momentum positif.

Related Post
Aktivitas perdagangan hari ini mencatatkan pergerakan yang didominasi oleh saham-saham yang melemah. Dari total saham yang diperdagangkan, 237 di antaranya berhasil menguat, sementara 417 saham melemah, dan 162 lainnya stagnan. Nilai transaksi jelang penutupan mencapai Rp 12,70 triliun, melibatkan 28,84 miliar saham dalam 1,87 juta kali transaksi. Meskipun terkoreksi, kapitalisasi pasar masih bertengger nyaman di atas level Rp 15.000 triliun.

Secara sektoral, mayoritas sektor perdagangan menunjukkan pelemahan. Hanya sektor infrastruktur dan finansial yang berhasil mencatatkan penguatan. Sementara itu, sektor konsumer non primer, properti, dan barang baku menjadi penyumbang pelemahan terdalam pada hari ini, menandakan adanya rotasi atau tekanan jual di segmen-segmen tersebut.
Beberapa saham berkapitalisasi besar yang menjadi penekan utama pergerakan IHSG hari ini meliputi AMMN, BBRI, BRPT, DSSA, dan BUMI. Kinerja saham-saham blue chip ini memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan, sehingga pelemahan pada saham-saham tersebut turut menyeret IHSG ke zona merah.
Memasuki perdagangan kedua pekan ini, euforia di pasar keuangan domestik sebenarnya masih terlihat cukup positif. Pelaku pasar tampak relatif mengantisipasi dinamika tarif resiprokal yang kembali mencuat, sehingga respons pasar cenderung lebih terukur dan tidak panik.
Sentimen negatif dari luar negeri turut membayangi, terutama setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman pemberlakuan tarif yang lebih tinggi. Ancaman ini ditujukan kepada negara-negara yang "bermain-main" dengan kesepakatan dagang terbaru, menyusul keputusan Mahkamah Agung AS pekan lalu yang memblokir banyak tarif global luas yang sebelumnya diberlakukan. Peringatan Trump muncul di tengah evaluasi yang dilakukan berbagai negara di seluruh dunia terhadap kesepakatan dagang pasca-putusan tersebut. Uni Eropa, misalnya, pada Senin lalu menyatakan akan menangguhkan ratifikasi kesepakatan yang dicapai musim panas lalu, sementara India juga menunda pembicaraan finalisasi kesepakatan.
Melalui media sosial Truth Social, Trump memperingatkan bahwa negara mana pun yang mencoba memanfaatkan putusan pengadilan tersebut untuk mundur dari komitmen perdagangan akan menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi dan kondisi yang lebih buruk. Pernyataan ini, dikutip dari BBC, menambah ketidakpastian dalam lanskap perdagangan global.
Dari perspektif teknikal, IHSG kini tengah berupaya menembus level psikologis 8.400, yang juga berfungsi sebagai area resisten. Jika level ini berhasil dilewati, ruang penguatan berikutnya berpotensi mengarah ke kisaran 8.600 hingga 8.700. Area tersebut merupakan "gap" yang ditinggalkan IHSG saat terjadi tekanan jual besar pada akhir Januari, ketika MSCI mengumumkan pembekuan terhadap indeks saham Indonesia dan menyatakan potensi penurunan status dari emerging market menjadi frontier market. Secara historis, gap dalam pergerakan teknikal seringkali cenderung tertutup, dan dengan momentum saat ini, peluang IHSG untuk mengisi area tersebut tetap terbuka.
Meski demikian, ada secercah harapan dari derasnya aliran modal asing ke pasar saham domestik. Investor asing mencatatkan net inflow selama empat hari berturut-turut, dengan total nilai mencapai Rp 3,2 triliun. Kondisi ini mengindikasikan adanya peningkatan kepercayaan investor global terhadap prospek bursa Indonesia di tengah gejolak eksternal dan koreksi minor yang terjadi.
Editor: Rohman





Tinggalkan komentar