Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan perdagangan dengan koreksi pada Jumat (13/1). Sentimen negatif pasar mendorong indeks turun 0,64% ke level 8.212,27. Meskipun sempat tertekan lebih dalam hingga 1,02% pada sesi pertama, IHSG berhasil memangkas pelemahan menjelang penutupan, menunjukkan adanya upaya buyback atau pembelian kembali saham di tengah volatilitas.

Related Post
Data perdagangan mencatat 267 saham bergerak di zona merah, sementara 408 saham menguat dan 148 lainnya stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp 24,41 triliun, melibatkan 49,40 miliar saham dalam 2,86 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar kembali menyusut menjadi Rp 14.918 triliun. Saham-saham dengan nilai transaksi terbesar di pasar reguler didominasi oleh Bank Central Asia (BBCA) dan Bumi Resources (BUMI), diikuti oleh DEWA, BMRI, dan PTRO. Hampir seluruh sektor perdagangan mengalami pelemahan, dengan sektor barang baku, infrastruktur, dan teknologi mencatatkan koreksi paling signifikan. Beberapa saham yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini antara lain BBCA, TLKM, AMMN, BREN, dan ASII.

Pelaku pasar perlu mewaspadai libur panjang Tahun Baru Imlek yang akan datang, mengingat bursa saham baru akan kembali beroperasi pada Rabu pekan depan. Di tengah dinamika pasar, Danantara akan menyelenggarakan acara penting bertajuk Indonesia Economic Outlook. Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Doni Oskaria, mengonfirmasi kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto dalam acara tersebut. Kehadiran Presiden sangat dinantikan untuk menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan terkini ekonomi Indonesia, khususnya dalam merespons downgrade outlook rating yang diberikan oleh Moody’s. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya telah menyatakan bahwa Presiden Prabowo menginstruksikan jajarannya untuk memberikan respons komprehensif terhadap penilaian Moody’s melalui forum Indonesia Economic Outlook ini.
Dari ranah domestik, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan klarifikasi penting terkait kebijakan pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Kebijakan ini dipastikan tidak akan diberlakukan secara merata kepada seluruh pelaku usaha pertambangan. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno, menjelaskan adanya pengecualian khusus bagi perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Generasi Pertama serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Dengan demikian, emiten-emiten besar seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dipastikan tidak akan terdampak oleh restriksi produksi ini. Kebijakan afirmatif ini didasari oleh dua pertimbangan utama: besarnya kontribusi penerimaan negara dari kelompok tersebut, yang meliputi kewajiban royalti sebesar 19% serta setoran bagi hasil keuntungan bersih sebesar 10% kepada pemerintah pusat dan daerah; serta urgensi ketahanan energi nasional. Pemerintah juga telah menginstruksikan pemegang PKP2B Generasi Pertama untuk mempercepat pemenuhan kewajiban pasok dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) sebesar 30% guna mengamankan pasokan listrik negara.
Meskipun strategi makro pemerintah saat ini berfokus pada pengendalian suplai untuk meredam oversupply global dan menjaga stabilitas harga, entitas strategis seperti PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Kideco Jaya Agung (Indika Energy), dan PT Berau Coal tetap diberikan fleksibilitas produksi. Hal ini mengingat peran vital mereka dalam struktur penerimaan negara dan pemenuhan kebutuhan energi domestik.
Sementara itu, dari eksternal, eskalasi ketegangan di Timur Tengah terus menjadi sorotan seiring dengan langkah Amerika Serikat memperkuat posisi militernya di kawasan tersebut. Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, militer AS telah menempatkan sistem pertahanan rudal Patriot pada peluncur bergerak di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar. Keunggulan mobilitas sistem Patriot, yang kini terpasang pada Truk Taktis Mobilitas Berat (HEMTT), memungkinkan relokasi cepat aset pertahanan dalam situasi darurat.
Selain itu, peningkatan jumlah pesawat tempur dan peralatan militer juga terpantau di pangkalan udara Muwaffaq di Yordania dan Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi. Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap ancaman yang muncul dari Iran terkait program nuklir dan rudal balistiknya, serta dukungan Teheran terhadap kelompok sekutu di kawasan. Presiden AS Donald Trump, meskipun tetap membuka opsi diplomasi, telah menegaskan kesiapan militernya jika negosiasi menemui jalan buntu. Di sisi lain, Iran telah memperingatkan akan membalas setiap serangan ke wilayahnya dengan menargetkan pangkalan AS. Teheran dikabarkan memiliki kompleks rudal bawah tanah dan telah menyiagakan kapal induk drone di sekitar Bandar Abbas, menambah kompleksitas situasi keamanan di Teluk Persia yang dapat memengaruhi sentimen pasar global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar