Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia kembali bangkit dengan perkasa pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan tren negatif, melesat 1,41% atau setara 103 poin, dan menutup sesi kedua di level 7.440,91. Kenaikan ini membawa optimisme baru setelah sehari sebelumnya indeks acuan tersebut terkoreksi signifikan.

Related Post
Sempat melesat hingga 2,2% dan nyaris menyentuh level psikologis 7.500 di awal perdagangan, IHSG harus puas dengan penguatan yang terpangkas tipis menjelang penutupan. Namun, performa ini tetap menjadi angin segar bagi investor yang sempat dihantui sentimen negatif global.

Data perdagangan Haluannews.id mencatat, sebanyak 534 saham berhasil menguat, menunjukkan dominasi aksi beli. Sementara itu, 190 saham melemah dan 93 lainnya tidak bergerak. Aktivitas transaksi terpantau solid dengan nilai mencapai Rp 19,16 triliun, melibatkan 336,26 miliar saham dalam 2,03 juta kali transaksi. Imbasnya, kapitalisasi pasar juga terkerek naik menjadi Rp 13.338 triliun.
Hampir seluruh sektor perdagangan mencatatkan kinerja positif, dengan sektor energi dan barang baku memimpin penguatan. Hanya sektor infrastruktur dan teknologi yang terpantau melemah tipis pada hari ini. Beberapa emiten papan atas yang menjadi motor penggerak utama IHSG meliputi DSSA, BRMS, BBCA, BMRI, dan BYAN.
Kenaikan IHSG hari ini kontras dengan kondisi perdagangan Senin (9/3/2026) kemarin, di mana indeks sempat anjlok tajam hingga 5,2% ke level 7.156, sebelum akhirnya menutup sesi dengan koreksi 3,27% atau 248 poin di level 7.337,37.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan pasar modal Tanah Air sebelumnya sangat dipengaruhi oleh sentimen geopolitik global. "Gangguan besar pada produksi dan pasokan minyak dari Selat Hormuz menjadi pemicu utama," ujarnya. Senada, Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah dan dampak penutupan Selat Hormuz sebagai faktor koreksi bursa global dan regional Asia.
Namun, pernyataan Presiden Donald Trump pada Senin (9/3/2026) tampaknya membawa harapan baru bagi pasar. Trump mengindikasikan sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak mentah dunia. Ia juga menyatakan bahwa kapal-kapal sudah mulai kembali bergerak melewati selat tersebut dan mengisyaratkan kemungkinan perang akan segera berakhir. Selain itu, Trump juga mempertimbangkan untuk mengurangi sanksi minyak terhadap Rusia guna membantu menstabilkan harga minyak mentah global.
Pernyataan tersebut langsung memicu volatilitas di pasar minyak. Meskipun sempat melonjak drastis, harga minyak mentah AS (WTI) ditutup di posisi US$ 94,77 per barel, naik 4,3%. Sementara itu, harga minyak Brent melonjak 6,8% dan ditutup di US$ 98,96 per barel. Padahal, pada sesi intraday, WTI sempat menyentuh US$ 119 per barel dan Brent mencapai US$ 119,50. Matt Smith, analis minyak di perusahaan konsultan energi Kpler, mengonfirmasi bahwa saat ini hanya segelintir kapal komersial yang masih bergerak melalui Selat Hormuz.
Penutupan Brent di atas US$ 98,96 ini juga menandai pertama kalinya harga minyak menembus level US$ 100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, menunjukkan betapa sensitifnya pasar komoditas terhadap perkembangan geopolitik.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar