Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia mencatat performa luar biasa pada Rabu (8/4/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tajam 4,42%, mengakhiri perdagangan di level 7.279,21. Lonjakan signifikan ini, setara dengan penguatan 308 poin, didorong oleh sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik global serta optimisme investor terhadap prospek kebijakan moneter.

Related Post
Data dari Haluannews.id menunjukkan, dominasi saham-saham yang menguat sangat kentara. Sebanyak 623 saham berhasil naik, jauh melampaui 101 saham yang terkoreksi, sementara 95 saham lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan pun sangat ramai, dengan nilai transaksi mencapai Rp 22,59 triliun, melibatkan 42,99 miliar saham dalam 2,43 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar ikut terkerek naik, menembus angka Rp 12.774 triliun.

Hampir seluruh sektor perdagangan hari ini menunjukkan performa positif. Sektor infrastruktur, barang baku, dan konsumer non-primer menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan paling tajam. Saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) dan emiten dari grup konglomerasi kompak menjadi penopang utama laju IHSG. BBCA memimpin daftar penggerak dengan sumbangan 23 poin, diikuti oleh AMMN, BBRI, BRPT, dan BRMS. Sebaliknya, sektor-sektor yang sebelumnya menjadi safe haven saat konflik, seperti migas dan batu bara, justru kompak melemah.
Penyebab utama di balik euforia pasar hari ini adalah kabar gembira dari Timur Tengah. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memberikan secercah harapan dan kepastian bagi investor global. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan untuk menangguhkan rencana serangan terhadap infrastruktur Iran selama dua minggu, dengan syarat Iran menyetujui pembukaan penuh dan aman Selat Hormuz.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa kesepakatan ini bergantung pada komitmen Iran untuk membuka jalur vital tersebut, sebagai upaya meredakan ketegangan geopolitik. Senada, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui unggahan di platform X, menyatakan angkatan bersenjata Iran akan menghentikan operasi defensifnya dan jalur aman di Selat Hormuz dapat dilakukan melalui koordinasi dengan militer Iran selama dua minggu ke depan.
Respons pasar terhadap kabar ini sangat cepat dan signifikan. Harga minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih dari 16%, mencapai level US$94,23 per barel. Penurunan tajam ini mencerminkan meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, yang sebelumnya menjadi pemicu inflasi.
Sentimen positif ini menyebar luas ke pasar saham Asia-Pasifik. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 5,3%, diikuti Kosdaq yang naik 3,4%, dengan saham unggulan seperti Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing melonjak 7,25% dan 9,2%. Di Jepang, Nikkei 225 menguat 4,5% dan Topix naik 3,2%. Indeks S&P/ASX 200 Australia juga turut naik 2,7%. Bahkan, pasar Hong Kong diperkirakan akan ikut menguat setelah libur, dengan kontrak berjangka Hang Seng menunjukkan optimisme investor.
Manajer portofolio Thornburg Investments, Josh Rubin, menilai penurunan harga energi berpotensi menekan inflasi global. Kondisi ini, menurutnya, membuka peluang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga. Di Amerika Serikat, kontrak berjangka indeks utama juga menguat, dengan Dow Jones naik 1,5%, S&P 500 bertambah 1,6%, dan Nasdaq 100 menguat 1,7%, sejalan dengan meredanya ketegangan geopolitik.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks S&P 500 naik tipis 0,08% dan Nasdaq Composite bertambah 0,10%, sementara Dow Jones Industrial Average sedikit terkoreksi 0,18%. Selain itu, perhatian global juga akan tertuju pada rilis risalah rapat Federal Reserve (FOMC Minutes) yang akan memberikan gambaran lebih dalam terkait pandangan para pejabat bank sentral AS terhadap kondisi ekonomi, inflasi, dan arah kebijakan ke depan.
Pasar akan membedah setiap detail dalam risalah tersebut, terutama terkait bagaimana The Fed menilai dampak lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik. Pada hari yang sama, pasar juga akan mencermati data inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator acuan utama The Fed. Data Januari 2026 menunjukkan PCE naik 0,3% (bulanan) dan 2,8% (tahunan), dengan core PCE naik 0,4% (bulanan) dan 3,1% (tahunan).
Untuk data Februari 2026, pelaku pasar memperkirakan core PCE tumbuh sekitar 3,0% secara tahunan, sedikit lebih rendah dari Januari. Namun, fokus utama tetap pada apakah tekanan harga akan bertahan lebih lama di tengah dinamika biaya energi global, yang kini mulai menunjukkan tren penurunan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar