Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan hari ini dengan performa impresif, melonjak tajam 2% hanya dalam lima menit pertama. Kenaikan signifikan ini membawa IHSG menguat 146,53 poin, mencapai level 7.483,90, setelah sebelumnya dibuka dengan kenaikan awal 1,69%.

Related Post
Pada pukul 09.05 WIB, aktivitas pasar menunjukkan dominasi bullish dengan 479 saham menguat, sementara 108 saham melemah dan 371 lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 1,68 triliun, melibatkan 2,77 miliar saham dalam 144.600 kali transaksi. Kapitalisasi pasar ikut terkerek, mencapai Rp 13.413 triliun.

Penguatan hari ini menjadi angin segar setelah IHSG mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (9/3/2026). Kala itu, indeks sempat anjlok hingga 5,2% ke level terendah 7.156, sebelum akhirnya memangkas koreksi menjadi 3,27% atau 248 poin, ditutup di 7.337,37.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan pasar modal domestik sebelumnya sangat dipengaruhi oleh sentimen geopolitik global. Ia menyoroti gangguan besar pada produksi dan pasokan minyak yang berasal dari Selat Hormuz sebagai pemicu utama.
Senada, Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menambahkan bahwa koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan bursa global dan regional Asia. "Eskalasi konflik di Timur Tengah dan dampak penutupan Selat Hormuz masih menjadi sentimen yang perlu diwaspadai," ujarnya kepada Haluannews.id.
Kondisi pasar minyak juga turut memanas. Harga minyak sempat turun pada Senin (9/3/2026) setelah Presiden Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak mentah dunia. Meski demikian, harga minyak mentah AS (WTI) ditutup menguat 4,3% di US$94,77 per barel, dan harga minyak Brent melonjak 6,8% ke US$98,96. Penting dicatat, harga penutupan ini jauh lebih rendah dibandingkan puncak intraday yang sempat menyentuh US$119 per barel untuk WTI.
Trump, dalam wawancara dengan CBS News, mengklaim bahwa kapal-kapal sudah mulai kembali bergerak melalui Selat Hormuz dan mengindikasikan bahwa konflik kemungkinan akan segera berakhir. Ia juga mempertimbangkan pengurangan sanksi minyak terhadap Rusia untuk menstabilkan harga. Analis minyak dari Kpler, Matt Smith, mengkonfirmasi bahwa hanya segelintir kapal komersial yang saat ini melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, patokan global Brent sempat menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, mencapai US$119,50 pada sesi perdagangan yang sama sebelum ditutup di US$98,96.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar