IHSG Melonjak ke 8.131: Pasar Sambut Kebijakan Baru & Suku Bunga!

IHSG Melonjak ke 8.131: Pasar Sambut Kebijakan Baru & Suku Bunga!

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa impresif pada perdagangan Selasa (10/2/2026), ditutup melesat lebih dari satu persen. Pada akhir sesi, indeks acuan pasar modal Indonesia ini berhasil melonjak signifikan sebesar 100 poin, atau setara dengan kenaikan 1,24%, menembus level psikologis 8.131,74. Kenaikan ini menandai optimisme pasar yang cukup kuat di tengah berbagai dinamika ekonomi.

COLLABMEDIANET

Aktivitas perdagangan hari itu mencatat dominasi saham yang menguat, dengan 556 saham berhasil naik, sementara 144 saham melemah, dan 116 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi harian mencapai angka fantastis Rp 20,37 triliun, melibatkan perputaran 45,77 miliar lembar saham dalam 2,45 juta kali transaksi. Imbasnya, kapitalisasi pasar turut terangkat, mencapai Rp 14.778 triliun, mencerminkan peningkatan kepercayaan investor.

IHSG Melonjak ke 8.131: Pasar Sambut Kebijakan Baru & Suku Bunga!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi primadona dengan nilai transaksi tertinggi pada sesi ini, mencapai Rp 5 triliun, diiringi kenaikan harga sebesar 3,33% ke level Rp 248. Selain BUMI, saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga mencatatkan volume transaksi jumbo, menunjukkan minat investor yang tinggi pada emiten-emiten tersebut.

Seluruh sektor industri yang tercatat di bursa kompak membukukan penguatan pada hari ini. Sektor properti, konsumer non-primer, dan industri memimpin kenaikan dengan apresiasi paling besar. Di sisi lain, sektor kesehatan dan infrastruktur juga turut menguat, meskipun dengan persentase kenaikan yang relatif lebih kecil dibandingkan sektor lainnya.

Kinerja positif IHSG banyak ditopang oleh saham-saham unggulan (blue chip) serta emiten milik konglomerat. PT Astra International Tbk (ASII) menjadi kontributor terbesar dengan lonjakan 3,01%, menyumbang 8,19 poin indeks. Disusul oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang berkontribusi 8 poin indeks. Sementara itu, PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga memberikan sumbangan signifikan, masing-masing sekitar 5 poin indeks. Namun, di tengah euforia kenaikan, beberapa saham seperti PT Bayan Resources Tbk (BYAN), BBCA, dan PT Emtek Tbk (EMAS) tercatat menjadi penahan laju IHSG, meskipun tidak signifikan.

Para pelaku pasar terus mencermati berbagai sentimen, baik dari ranah domestik maupun global, yang berpotensi memengaruhi arah pasar. Fokus utama tertuju pada kelanjutan evaluasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia serta arah kebijakan bank sentral di seluruh dunia.

Salah satu isu krusial yang tengah menjadi sorotan tajam adalah peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai potensi penurunan status Indonesia. Jika standar pasar modal domestik dinilai tidak lagi memenuhi kriteria global, Indonesia terancam didegradasi dari kategori Emerging Markets ke Frontier Markets. Risiko downgrade ini merupakan alarm serius, mengingat status Emerging Market adalah pintu gerbang masuknya foreign flow triliunan Rupiah ke pasar saham tanah air. Ketergantungan Indonesia pada aliran dana pasif dari indeks global seperti MSCI sangat tinggi, sehingga penurunan status ini dapat berdampak signifikan.

Menyikapi ancaman tersebut, pemerintah dan regulator pasar modal mengambil langkah proaktif dengan melakukan perombakan struktural besar-besaran. Perubahan terjadi mulai dari jajaran Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga direksi Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini diambil untuk menyuntikkan visi baru dan memastikan eksekusi kebijakan yang lebih agresif serta dinamis, guna menjaga kredibilitas dan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.

Sebagai tindak lanjut, regulator segera mengeksekusi kebijakan strategis yang lebih ketat. Salah satunya adalah peningkatan batas free float menjadi 15%, naik dua kali lipat dari aturan sebelumnya yang hanya 7,5%. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas pasar secara riil, sejalan dengan standar tinggi yang ditetapkan oleh MSCI.

Selain likuiditas, transparansi pasar juga diperkuat. Regulator kini mewajibkan pembukaan data kepemilikan saham hingga porsi 1%, jauh lebih transparan dibandingkan aturan lama yang hanya mewajibkan pelaporan untuk kepemilikan 5% ke atas. Tindakan ini memiliki misi ganda: memenuhi standar transparansi global sekaligus melindungi investor ritel dari praktik manipulasi pasar atau "saham gorengan" yang kerap bersembunyi di balik kepemilikan semu.

Di ranah kebijakan moneter, bank sentral global maupun domestik mulai memasuki fase pelonggaran. Setelah mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang tahun 2024 untuk meredam inflasi di Amerika Serikat, Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) kini kompak memangkas suku bunga acuan mereka pada tahun 2026. Data pasar per Januari 2026 menunjukkan Fed Funds Rate telah turun ke level 3,75%, sementara BI Rate menyesuaikan diri untuk tetap di level 4,75%, sebagian akibat pelemahan Rupiah di pasar valuta asing. Selisih suku bunga yang terjaga sebesar 1,00% atau 100 basis poin ini dinilai masih cukup menarik dan kompetitif untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing, sekaligus memelihara stabilitas nilai tukar Rupiah.

Lebih lanjut, penurunan suku bunga acuan ini diharapkan dapat segera ditransmisikan ke sektor perbankan, yang pada gilirannya akan menurunkan biaya dana (cost of fund) bagi dunia usaha. Biaya pinjaman yang lebih murah diharapkan dapat mengakselerasi ekspansi bisnis dan penyaluran kredit, yang pada akhirnya akan memacu pertumbuhan sektor riil secara lebih cepat pada tahun ini. Targetnya, mesin ekonomi Indonesia dapat berakselerasi menuju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 8%.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar