Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Selasa (3/3/2026) dengan performa impresif, melonjak lebih dari satu persen setelah tertekan dalam pada sesi sebelumnya. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini sempat menyentuh level tertinggi 8.098,39, nyaris menembus ambang psikologis 8.100. Namun, euforia awal tak bertahan lama, dengan penguatan yang terpangkas signifikan menjelang pertengahan sesi pagi.

Related Post
Pada sesi intraday pertama, IHSG mencatatkan kenaikan 1,01% atau setara 81 poin. Namun, pada pukul 09.40 WIB, apresiasi tersebut menyusut drastis, hanya tersisa 0,3%. Data transaksi menunjukkan total nilai Rp 10,49 triliun, melibatkan 11,56 miliar saham dalam 716.668 kali transaksi. Sebanyak 437 saham menguat, sementara 188 saham melemah, dan 114 lainnya tidak bergerak.

Hampir seluruh sektor perdagangan membukukan kenaikan, kecuali sektor konsumer non-primer yang mencatatkan pelemahan. Sektor energi dan konsumer primer menjadi motor penggerak utama dengan lonjakan terbesar. Saham-saham pertambangan, seperti FILM, ANTM, dan MDKA, tercatat sebagai kontributor terbesar terhadap penguatan IHSG pagi ini. Sementara itu, saham-saham sektor energi seperti BUMI, MEDC, dan ENRG mendominasi volume transaksi di bursa, seperti dilaporkan oleh Haluannews.id.
Di tengah gejolak pasar, beberapa data ekonomi domestik menjadi sorotan. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari 2026 yang menunjukkan lonjakan inflasi bulanan sebesar 0,68%, tertinggi sejak April 2025. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan harga bahan pangan, terutama menjelang dan selama Ramadan. Secara tahunan, inflasi IHK mencapai 4,76% (yoy), level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir sejak Maret 2023.
Kabar positif datang dari neraca perdagangan Indonesia. BPS melaporkan surplus sebesar US$ 960 juta pada Januari 2026, melanjutkan tren positif selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2021. Ekspor tercatat US$ 22,16 miliar, melampaui impor sebesar US$ 21,20 miliar, menjaga posisi neraca perdagangan tetap solid di awal tahun.
Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan resiliensi. S&P Global melaporkan Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Februari 2026 berada di level 53,8, meningkat dari 52,6 di Januari. Angka di atas 50 ini mengindikasikan fase ekspansi dan perbaikan kesehatan sektor industri di Tanah Air, sebagaimana disampaikan S&P Global pada Senin (2/3/2026).
Namun, prospek pasar keuangan Indonesia masih dibayangi oleh ketidakpastian global, terutama memanasnya situasi di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran semakin meluas. Israel melancarkan serangan ke Lebanon sebagai balasan atas aksi Hizbullah, sementara Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi ini bisa berlangsung selama beberapa minggu, dan kepemimpinan Iran pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei masih belum jelas. Eskalasi ini telah menyeret kawasan Teluk ke dalam kancah perang, menelan puluhan korban jiwa di Iran, Israel, dan Lebanon, serta mengganggu transportasi udara global. Yang paling krusial, pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, terhenti, memicu lonjakan harga minyak.
Harga minyak mentah berjangka AS naik 0,15% menjadi $71,33, sementara Brent melonjak 7,14% menjadi $78,07 per barel, setelah Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz. Lebih dari 14 juta barel per hari, atau hampir sepertiga total ekspor minyak mentah dunia melalui jalur laut, melewati selat ini tahun lalu, menurut data Kpler.
Dampak konflik ini juga terasa di pasar Asia-Pasifik yang dibuka melemah pada Selasa. Indeks Kospi Korea Selatan turun hampir 2%, meskipun saham sektor pertahanan seperti Hanwha Aerospace melonjak 11%. S&P/ASX 200 Australia dan Nikkei 225 Jepang juga mencatatkan penurunan. Sementara itu, di Amerika Serikat, S&P 500 dan Nasdaq Composite berhasil pulih tipis setelah sempat tertekan, sedangkan Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,15%.
Kombinasi antara data ekonomi domestik yang beragam dan ketegangan geopolitik global yang memanas menciptakan lanskap pasar yang penuh tantangan. Meskipun IHSG menunjukkan kekuatan awal, tekanan eksternal berpotensi meredam optimisme investor dalam jangka pendek.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar