Haluannews Ekonomi – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya mengakhiri tren positifnya setelah tiga hari berturut-turut mencatatkan kenaikan. Pada penutupan perdagangan Kamis (12/2/2026), barometer pasar modal Indonesia ini harus rela terkoreksi 25,61 poin atau setara 0,31%, menempatkannya pada level 8.265,35.

Related Post
Aktivitas transaksi di lantai bursa cukup ramai, dengan total nilai mencapai Rp 23,85 triliun. Sebanyak 43,26 miliar lembar saham berpindah tangan melalui 3,02 juta kali transaksi. Sentimen negatif tampak mendominasi, tercermin dari 384 saham yang melemah, berbanding 294 saham yang menguat, sementara 144 saham lainnya stagnan.

Di tengah koreksi IHSG, pergerakan investor asing menjadi sorotan utama. Data menunjukkan, investor global mencatatkan aksi jual bersih (net sell) yang signifikan, mencapai Rp1,49 triliun di seluruh pasar. Lebih spesifik, di pasar reguler, tekanan jual asing bahkan lebih besar, menembus angka Rp2,03 triliun. Namun, ada dinamika menarik di pasar negosiasi dan tunai, di mana asing justru membukukan pembelian bersih sebesar Rp542,38 miliar.
Paradoksnya, di tengah derasnya arus dana keluar, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru menjadi primadona bagi investor asing. Saham bank berkapitalisasi jumbo ini tercatat sebagai yang paling banyak dibeli asing (net buy) dengan nilai fantastis, mencapai Rp890,06 miliar. Selain BBCA, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga menarik minat asing dengan net buy sebesar Rp507,09 miliar, diikuti oleh PT Petrosea Tbk (PTRO) yang diborong asing senilai Rp249,79 miliar.
Dinamika pasar yang terjadi pada Kamis ini mengindikasikan adanya selektivitas investor asing dalam menempatkan dananya, meskipun secara agregat mereka cenderung melepas kepemilikan. Pergerakan ini akan terus menjadi perhatian para pelaku pasar di sesi perdagangan berikutnya, terutama untuk melihat apakah BBCA akan terus menjadi penopang di tengah tekanan jual asing.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar