Haluannews Ekonomi – Gejolak geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, kini mulai menunjukkan dampak serius terhadap industri semen di Indonesia. Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), Indriefouny Indra, menegaskan bahwa dinamika global ini telah mendorong kenaikan harga semen di pasaran domestik, menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi sektor vital ini. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, seperti dilaporkan Haluannews.id.

Related Post
Indriefouny menjelaskan, lonjakan harga batu bara di pasar global, ditambah dengan kenaikan signifikan pada biaya logistik atau freight, secara langsung mendongkrak harga pokok produksi perseroan. Ia menekankan bahwa biaya energi merupakan komponen paling signifikan dalam struktur biaya produksi semen, menyumbang lebih dari 50%. Situasi ini diperparah dengan belum disetujuinya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sejumlah tambang batu bara, yang berpotensi mengganggu pasokan energi vital dan memicu ketidakpastian harga.

Lebih lanjut, Indriefouny menyoroti disrupsi pada rantai pasok global. Gangguan pada jalur pelayaran internasional, yang esensial untuk mengimpor suku cadang mesin pabrik yang spesifik dari Eropa atau Amerika, kini menjadi kendala signifikan. Tak hanya itu, pasokan bahan baku atau pendukung produksi di dalam negeri juga terganggu, menyusul deklarasi force majeure dari Chandra Asri, satu-satunya produsen petrokimia di Indonesia, yang berimplikasi pada ketersediaan sumber daya penting.
Di tengah tekanan biaya produksi yang membengkak dan kendala pasokan yang kompleks, industri semen juga dihadapkan pada tantangan pelemahan permintaan di pasar domestik. Kondisi ini menciptakan "krisis ganda" bagi produsen semen, di mana biaya operasional melonjak sementara daya serap pasar belum menunjukkan pemulihan optimal.
Untuk menyiasati kekurangan kebutuhan di pasar domestik dan meredam dampak negatif dari tekanan global, Indriefouny menegaskan bahwa perusahaan akan mengoptimalkan strategi ekspor. "Kami sudah, untuk menyiasati kekurangan kebutuhan domestik, kami meningkatkan ekspor," pungkasnya, menunjukkan upaya adaptasi perusahaan di tengah badai ekonomi global dan domestik yang tak terduga. Langkah ini diharapkan dapat menjadi katup pengaman bagi kinerja perseroan di tengah ketidakpastian yang membayangi.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar