F.D.V. Wulansari, CFP, seorang Financial Trainer di QM Financial, seperti dikutip dari Mommies Daily pada Sabtu (10/1/2025), menekankan urgensi memulai perencanaan dana pendidikan sejak dini. Idealnya, langkah ini diambil sejak awal pernikahan atau setidaknya saat awal kehamilan. Alasan utamanya sangat fundamental: biaya pendidikan terus merangkak naik secara signifikan akibat inflasi yang tak terhindarkan. Dengan memulai lebih awal, orang tua dapat memanfaatkan kekuatan bunga majemuk dari investasi, yang akan melipatgandakan nilai dana seiring berjalannya waktu.

Related Post
Wulansari membagikan beberapa kiat strategis untuk memastikan dana pendidikan anak terpenuhi dengan optimal:

- Komunikasi Intensif dengan Pasangan: Ini adalah fondasi utama perencanaan keuangan keluarga. Diskusikan secara mendalam jenis sekolah atau jenjang pendidikan yang diinginkan untuk anak, lalu lakukan riset bersama mengenai estimasi biaya dan fasilitas sekolah incaran. Kesepahaman bersama akan mempermudah eksekusi rencana.
- Pastikan Cakupan Biaya Komprehensif: Jangan hanya terpaku pada uang pangkal. Wulansari mengingatkan, orang tua harus memastikan mampu membayar SPP bulanan atau tahunan, biaya seragam, buku, dan pengeluaran lain yang mungkin timbul dari penghasilan rutin. "Dana pendidikan itu mencakup banyak jenis biaya, apalagi kalau swasta," tegasnya, menyoroti kompleksitas biaya di institusi swasta.
- Terapkan Prinsip "Hope for the Best, Prepare for the Worst": Meskipun berharap anak bisa masuk sekolah negeri atau perguruan tinggi negeri (PTN) jalur reguler, penting untuk tetap menyiapkan dana cadangan untuk institusi pendidikan swasta. Ini adalah langkah antisipasi yang bijak untuk menghadapi segala kemungkinan.
- Fokus pada Komponen Biaya Terbesar: Untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), siapkan uang pangkal dari jauh hari. Sementara untuk jenjang kuliah, dana yang harus disiapkan mencakup uang pangkal dan biaya semesteran selama empat tahun atau hingga kelulusan. Komponen-komponen ini biasanya memakan porsi terbesar dan memerlukan perencanaan matang sejak dini.
- Sesuaikan dengan Kemampuan Finansial: Wulansari mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan diri di luar batas kemampuan. Perencanaan harus realistis dan disesuaikan dengan kapasitas keuangan keluarga, sehingga tidak menimbulkan beban yang justru mengganggu stabilitas finansial.
Menghitung Besaran Dana yang Ideal Disisihkan Tiap Bulan
Untuk menghitung berapa dana yang perlu disisihkan secara rutin, Wulansari menyarankan untuk memanfaatkan rumus time value of money (TVM) yang banyak tersedia di kalkulator online atau perangkat lunak seperti Microsoft Excel/Google Spreadsheets.
- Tahap Pertama: Menentukan Target Masa Depan. Mulailah dengan menetapkan target biaya pendidikan saat ini. Kemudian, proyeksikan nilai masa depannya dengan memperhitungkan faktor inflasi. Sebagai ilustrasi, jika uang pangkal SMP saat ini Rp 30 juta dan dibutuhkan 12 tahun lagi dengan asumsi inflasi 5% per tahun, maka nilai masa depannya bisa mencapai sekitar Rp 53,9 juta.
- Tahap Kedua: Menghitung Alokasi Bulanan. Setelah mengetahui target masa depan yang realistis, hitung berapa yang harus disisihkan setiap bulan. Orang tua memiliki opsi untuk menabung saja atau berinvestasi.
- Jika hanya menabung (dengan asumsi bunga tabungan mendekati 0%), maka untuk mencapai Rp 53,9 juta dalam 12 tahun, dibutuhkan sekitar Rp 375 ribu per bulan.
- Namun, jika memilih berinvestasi secara rutin per bulan di produk dengan imbal hasil bersih 6% per tahun, jumlah yang perlu disisihkan akan jauh lebih rendah, yaitu sekitar Rp 257 ribu per bulan, dengan menggunakan rumus PMT dalam TVM.
Perencanaan dana pendidikan yang matang bukan hanya soal angka, tetapi juga disiplin, konsistensi, dan strategi yang tepat. Dengan panduan dari pakar, orang tua dapat mempersiapkan masa depan pendidikan anak tanpa rasa khawatir berlebihan, memastikan investasi terbaik untuk generasi penerus.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar