Perombakan fundamental bisnis Pertamina ini akan diwujudkan melalui serangkaian aksi korporasi yang komprehensif, mencakup divestasi, merger, dan restrukturisasi. "Skema yang kami terapkan untuk Pertamina melibatkan tiga pilar utama. Pertama, divestasi, yang bisa bersifat internal maupun eksternal. Kedua, konsolidasi melalui merger, terutama untuk bisnis hilir yang akan kami satukan. Dan ketiga, restrukturisasi bisnis-bisnis yang kurang optimal untuk meningkatkan kinerja," jelas Dony, merinci strategi yang akan diterapkan.

Related Post
Dalam konteks aset non-migas, Dony menjabarkan bahwa Indonesia Healthcare Corporation (IHC), holding rumah sakit milik Pertamina, akan dilepaskan dari kendali Pertamina dan dikelola langsung oleh Danantara. "Banyak rumah sakit yang kita miliki. Nantinya, IHC akan diambil alih oleh Danantara dan berdiri sebagai holding sendiri khusus rumah sakit. Ini akan menjadikan perusahaan BUMN kita lebih baik dan lebih proper, fokus pada bidangnya masing-masing," ungkapnya, mengindikasikan upaya spesialisasi dan peningkatan efisiensi.

Tak hanya itu, sektor penerbangan juga menjadi target konsolidasi. Bisnis maskapai Pelita Air akan digabungkan dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melalui proses merger yang ditargetkan rampung pada kuartal I tahun 2026. "Garuda akan menyelesaikan proses penggabungan ini pada kuartal pertama tahun ini," tambah Dony, menegaskan percepatan integrasi di industri aviasi nasional.
Dony menegaskan bahwa BPI Danantara tidak hanya berfokus pada Pertamina. Secara paralel, Danantara akan terus melakukan manuver konsolidasi terhadap sejumlah perusahaan BUMN di berbagai sektor. Proses ini akan berlangsung sepanjang tahun, dimulai dari sektor kesehatan (IHC), perhotelan, penerbangan (airlines), asuransi, hingga bisnis-bisnis lainnya. "Selama satu tahun ini, kami akan menjalankan proses konsolidasi secara paralel, dimulai dari yang terdekat seperti IHC, rumah sakit, hotel, kemudian airlines, asuransi, dan berbagai bisnis lainnya," pungkasnya, menandai era baru efisiensi dan optimalisasi aset BUMN.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar