Laba Rp 20 Triliun! BNI Jadi Motor Ekonomi, Pimpin Transisi Hijau Nasional

Related Post
Jakarta, Haluannews.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menegaskan posisinya bukan sekadar entitas perbankan, melainkan instrumen strategis negara dengan kapabilitas global yang berperan krusial dalam mengakselerasi agenda pembangunan nasional. Komitmen ini selaras dengan program prioritas pemerintah dan Asta Cita, di mana BNI secara aktif menyalurkan kontribusi pada sektor-sektor vital seperti pendidikan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, serta sektor riil yang menjadi tulang punggung penciptaan lapangan kerja dan pembangunan daerah.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menyatakan bahwa sebagai bank milik negara, BNI memposisikan diri melampaui sekadar lembaga intermediasi keuangan. "Kami adalah mitra strategis pemerintah dalam mengakselerasi agenda pembangunan nasional," tegas Putrama dalam keterangan resmi yang diterima Haluannews.id pada Senin (16/2/2026). Ia menambahkan, sinergi BNI dalam berbagai program prioritas pemerintah dijalankan dengan pendekatan yang prudent, berbasis ekosistem, dan berorientasi pada penguatan fundamental ekonomi jangka panjang.
Peran tersebut diwujudkan melalui skema pembiayaan yang terarah, penguatan layanan keuangan, serta pemanfaatan digitalisasi untuk menjamin implementasi kebijakan pembangunan berjalan efektif dan berkelanjutan. Sebagai contoh, dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), BNI tidak hanya berperan dalam penyaluran pembiayaan, tetapi juga mendukung digitalisasi transaksi melalui layanan Virtual Account dan BNIdirect, memastikan operasional program lebih efisien, transparan, dan terintegrasi.
Tak hanya itu, pada Program Sekolah Rakyat, BNI menyediakan layanan perbankan digital untuk pengelolaan sekolah, termasuk pembukaan rekening bagi siswa dan tenaga pendidik, serta memperkuat ekosistem keuangan berbasis Agen46. BNI juga aktif mendorong pembangunan desa, koperasi, dan UMKM melalui pembiayaan Koperasi Kecamatan/Kelurahan Desa Merah Putih (KDKMP) yang terintegrasi dengan jaringan Agen46, serta memperkuat dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah melalui penyaluran KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Di sisi kinerja keuangan, Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengungkapkan bahwa intermediasi BNI mencatatkan pertumbuhan positif dan berimbang sepanjang tahun 2025. BNI berhasil membukukan pertumbuhan kredit sebesar 15,9% secara tahunan (YoY), menunjukkan kinerja intermediasi yang solid di tengah tantangan ekonomi global. "Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global," ujar Paolo. Penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga telah disalurkan BNI ke sektor-sektor produktif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, meliputi sektor pengolahan, perdagangan, konstruksi, pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Pengelolaan neraca BNI sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat. Fokus utama diarahkan pada penguatan pendanaan berbasis dana murah (CASA). Hingga akhir 2025, pertumbuhan kredit sebesar 15,9% YoY sepenuhnya didanai oleh dana murah dengan pertumbuhan CASA sebesar 28,9% YoY, ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 43,8% YoY dan tabungan yang mencatat pertumbuhan 11,2% YoY. Struktur pendanaan yang sehat ini menopang pengelolaan likuiditas secara optimal. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator, memberikan ruang ekspansi bisnis yang memadai serta antisipasi risiko.
Momentum akselerasi bisnis terlihat jelas pada kuartal IV tahun 2025, di mana BNI berhasil membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun, pencapaian tertinggi dibandingkan tiga kuartal sebelumnya. Akselerasi PPOP ini didukung oleh pertumbuhan net interest income (NII) dan fee based income (FBI). Secara kumulatif 2025, NII dibukukan sebesar Rp40,3 triliun, meskipun loan yield tertekan akibat penurunan suku bunga acuan. Sementara itu, pendapatan non-bunga tumbuh 5,2% YoY menjadi Rp24,6 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui digital channel, treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas cabang.
Kualitas aset BNI juga menunjukkan perbaikan berkelanjutan, tercermin dari penurunan rasio non-performing loan (NPL) dan Loan at Risk (LaR). NPL bruto tercatat sebesar 1,9% atau membaik 10bps YoY, sementara LaR 8,5% atau membaik 1,8% YoY, menandakan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan kembali ke kondisi pra-pandemi. Di sisi lain, NPL coverage ratio mencapai 205,5% dan LaR coverage ratio mencapai 46,9%, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan. "Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," jelas Paolo.
Dengan kombinasi pertumbuhan kredit yang sehat, struktur pendanaan yang solid, serta kualitas aset yang membaik, BNI berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20,0 triliun sepanjang tahun 2025.
Di sisi lain, Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menyampaikan bahwa BNI secara konsisten mengimplementasikan langkah-langkah strategis di seluruh aspek operasional dan pembiayaan guna memperkuat praktik keberlanjutan. Selama tahun 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI mencapai Rp197 triliun atau setara 22% dari total kredit BNI. Pembiayaan tersebut disalurkan ke berbagai sektor, antara lain energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam dan penggunaan lahan, pengelolaan air dan limbah, serta segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ke depan, BNI akan terus memperluas pembiayaan pada sektor-sektor prioritas hijau, termasuk energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
"Keberlanjutan bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, tetapi telah menjadi fondasi strategi bisnis BNI dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar David. Inisiatif keuangan berkelanjutan, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), serta pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi jangka panjang BNI.
Komitmen tersebut tercermin dari penerbitan Sustainability Bond senilai Rp5 triliun pada 2025 dengan peringkat idAAA. Framework Sustainability Bond BNI juga telah memperoleh Second Party Opinion (SPO) dari Sustainalytics dengan hasil credible and impactful, yang menegaskan kualitas dan dampak pembiayaan keberlanjutan BNI sesuai standar nasional maupun internasional. Selain itu, sebagai bentuk dukungan terhadap target pemerintah untuk mencapai Net Zero Emission 2060, BNI juga memperkuat komitmen keberlanjutan melalui penerbitan Green Bond senilai Rp5 triliun yang dialokasikan untuk mendukung pembiayaan berwawasan lingkungan dan sosial, serta penyaluran Sustainability Linked Loan (SLL) kepada perusahaan yang telah menunjukkan peningkatan kinerja keberlanjutan.
Sebagai pionir green banking dan agent of development, BNI juga meluncurkan ESG Advisory Playbook untuk subsektor kelapa sawit sebagai panduan transisi bagi debitur, menjadikannya bank pertama di Indonesia yang menyusun dan memperkenalkan playbook tersebut. BNI mengintegrasikan prinsip keuangan berkelanjutan ke dalam nilai perusahaan, budaya kerja, strategi bisnis, dan kebijakan operasional, sekaligus berperan aktif dalam mendorong transisi hijau nasional melalui pemanfaatan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar