Haluannews Ekonomi – Langkah mengejutkan datang dari salah satu entitas terafiliasi Grup Salim, PT Tunas Mekar Jaya, yang secara signifikan memangkas kepemilikan sahamnya di PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Divestasi ini menempatkan porsi kepemilikan mereka di bawah ambang batas 1%, sebuah sinyal yang menarik perhatian pelaku pasar. Demikian dilaporkan oleh Haluannews.id.

Related Post
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebelum serangkaian transaksi divestasi, PT Tunas Mekar Jaya menggenggam 77.519.380 unit saham CBDK, merepresentasikan 1,37% dari total hak suara perusahaan. Pasca-transaksi, kepemilikan tersebut menyusut menjadi 52.519.380 unit, atau setara dengan 0,93% hak suara.

Manajemen PT Tunas Mekar Jaya menyatakan bahwa tujuan utama dari divestasi ini adalah "realisasi nilai investasi." Proses penjualan saham ini dilakukan dalam dua tahap krusial. Tahap pertama terjadi pada 12 Februari 2026, di mana sebanyak 17.500.000 lembar saham dilepas. Kemudian, pada 18 Februari 2026, transaksi kedua melibatkan pelepasan 7.500.000 lembar saham biasa. Dengan harga pelaksanaan yang ditetapkan sebesar Rp6.300 per saham, total nilai transaksi penjualan saham CBDK oleh Tunas Mekar Jaya mencapai angka fantastis Rp157,5 miliar.
Sebagai informasi tambahan, PT Tunas Mekar Jaya bukanlah entitas asing dalam konstelasi bisnis Grup Salim. Perseroan ini dikenal luas sebagai salah satu lengan investasi yang terafiliasi erat dengan konglomerasi tersebut. Struktur kepemilikannya menunjukkan Hindarto Budiono memegang mayoritas saham sebesar 99,99%, sementara Harris Then memiliki porsi minoritas 0,0005%.
Sosok Hindarto Budiono sendiri merupakan figur sentral yang rekam jejak bisnisnya banyak bersinggungan dengan Grup Salim. Pria kelahiran Purwodadi, 17 Juni 1954, ini menjabat sebagai Komisaris Utama Net Sekuritas dan memiliki 59,5% kepemilikan di perusahaan broker tersebut. Net Sekuritas, dengan kode broker ‘OK’, juga secara luas diidentifikasi memiliki hubungan afiliasi yang kuat dengan Grup Salim, menegaskan jalinan bisnis yang kompleks ini.
Langkah divestasi ini tentu memicu pertanyaan di kalangan investor mengenai strategi jangka panjang Grup Salim terhadap portofolio investasinya, khususnya di sektor properti atau pengembangan kawasan seperti CBDK. Apakah ini murni upaya realisasi keuntungan, ataukah ada pergeseran fokus investasi yang lebih besar sedang direncanakan?
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar